Hasto: Kalau Bung Karno Masih Hidup, Peristiwa di Gaza Tidak Akan Terjadi
·waktu baca 3 menit

PDIP mengadakan peringatan Hari Santri Nasional di Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta Selatan pada Rabu (22/10). Dalam kesempatan ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengingatkan bahwa Presiden pertama RI, Sukarno, selalu mendorong kemerdekaan negara-negara Islam.
Salah satu negara yang selalu didorong oleh Sukarno agar merdeka adalah Palestina yang hingga saat ini masih dijajah Israel. Hasto pun menilai, kalau Sukarno masih hidup, genosida di Gaza tidak akan terjadi.
“Saya mengatakan dengan spirit resolusi jihad dan dukungan negara-negara Asia-Afrika, kalau Bung Karno masih hidup peristiwa seperti Gaza tidak akan pernah terjadi saudara-saudara sekalian,” ucap Hasto dalam keynote speech-nya.
Hasto pun bercerita bahwa dahulu upaya Sukarno memerdekakan Palestina gagal karena ketahuan oleh imperialisme global. Upaya itu adalah membuat bom nuklir.
“Maka, Sukarno kemudian membujuk itu, bahwa kita hanya bisa membebaskan Palestina kalau kita punya nuklir. Sehingga Sukarno kemudian mengirim 200 ilmuwan ke Amerika Serikat,” ucap Hasto.
Rencana Sukarno ini pun dibantu oleh mantan Presiden Amerika Serikat saat itu, John F. Kennedy. Namun, upaya pertama gagal saat Kennedy tewas tertembak.
“Eh, tiba-tiba Kennedy terbunuh berantakan lah, maka seratus ilmuwan itu kemudian dikirim ke Tiongkok,” jelas Hasto.
Perjuangan membangun bom nuklir itu pun dilanjutkan dan didukung oleh kelompok-kelompok Islam di Indonesia.
“Nah, di situlah kemudian bom atom ini di dalam Muktamar Muhammadiyah di Bandung diumumkan 24 Juli tahun ‘65 Insya Allah dalam waktu dekat, kita akan berhasil membuat bom atom sendiri. Ini akan dipakai untuk pembebasan Palestina dari Israel,” ucap Hasto.
Namun, menurut Hasto, imperialisme global mengendus rencana Sukarno itu. Soekarno pun dijatuhkan.
“Ketahuan dulu oleh imperialisme global, maka Sukarno dijatuhkan,” tambah Hasto.
Menurut Hasto, semangat Soekarno membela Palestina dari Israel akan selalu dibawa oleh PDIP. Contohnya saat PDIP menolak keikutsertaan Israel pada gelaran Piala Dunia U-20 tahun 2022 lalu yang semula akan diadakan di Indonesia.
“Itu yang membuat mengapa kami saat menjalankan Pemilu itu ketika Israel mau datang, kami menyampaikan sikap ideologis dan historis ini, karena sudah ditandatangani oleh Bung Karno untuk mendukung kemerdekaan Palestina,” ucap Hasto.
“Lho kita sudah dibantu di dalam teritorial wilayah kita, masa kita tidak bantu sana. Itu kontrak politik kita. Maka mengapa kita kemudian menolak itu. Ada yang mengatakan, mengaitkan antara sepak bola dengan politik. Ya emangnya politik itu kehidupan kata Bu Mega,” tandasnya.
Hasto juga menyampaikan bagaimana peran Sukarno dalam dunia Islam internasional. Dia menceritakan kembali bagaimana Sukarno memberi syarat temukan makam Imam Bukhori kepada Uni Soviet saat itu.
Juga bagaimana Sukarno menyelamatkan Universitas Al-Azhar Mesir yang saat itu akan ditutup.
