Hasto Tanam Mangrove di CMC Tiga Warna, Catat Koordinat Tanaman Lewat Aplikasi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengunjungi kawasan konservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Malang, Jatim. Dok. PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengunjungi kawasan konservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Malang, Jatim. Dok. PDIP

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengunjungi kawasan konservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Malang Selatan, Jawa Timur, Sabtu (17/10). Dalam kunjungan tersebut, Hasto bersama jajaran pengurus DPP PDI Perjuangan meninjau kawasan konservasi, melihat rumah pembibitan, serta menanam mangrove bersama masyarakat setempat.

CMC Tiga Warna merupakan kawasan ekowisata pantai sekaligus konservasi mangrove yang terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, berdekatan dengan Pantai Tiga Warna. Sejumlah peserta workshop yang terdiri atas nelayan, ibu-ibu, dan anak muda telah berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan di kawasan tersebut.

Dalam kunjungan itu, Hasto didampingi Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini, serta Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup Eriko Sotarduga.

Sebelum memasuki kawasan, rombongan menjalani pemeriksaan barang bawaan sesuai dengan ketentuan pengelola. Setelah itu, mereka berkeliling untuk menyaksikan langsung pengelolaan kawasan konservasi, mengunjungi tempat pembibitan mangrove, dan melakukan penanaman bersama warga.

Usai menanam, Hasto membuka aplikasi peta pada telepon selulernya untuk mencatat koordinat lokasi tanaman tersebut. Langkah ini dilakukan agar lokasi mangrove yang ditanam dapat diketahui secara tepat dan dipantau kembali pada kemudian hari.

"Saya sekarang tahu dan mencatat koordinat tanaman ini, jadi kalau saya mau mengeceknya saya tahu lokasi persisnya," kata Hasto sambil tersenyum.

Hasto menegaskan bahwa penanaman mangrove tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, upaya menjaga kelestarian lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan, sejalan dengan kampanye PDI Perjuangan melalui program Merawat Pertiwi.

"Gerakan menanam mangrove adalah wujud tanggung jawab kita menjaga kehidupan. Mangrove membantu melindungi pantai dari abrasi, menjadi tempat hidup dan berkembang biak berbagai biota laut, serta menyerap dan menyimpan karbon," ujarnya.

"Menjaga mangrove berarti menjaga lingkungan sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir."

Empat Pantun Hasto

Setelah melakukan penanaman, Hasto bersama rombongan bergabung dengan komunitas lingkungan untuk mengikuti webinar melalui Zoom. Kegiatan tersebut disiarkan melalui kanal YouTube Tunas Hijau yang dikelola pegiat lingkungan M. Zamroni.

Dalam forum itu, penggerak CMC Tiga Warna, Saptoyo, menjelaskan manfaat ekonomi yang telah dihasilkan dari pengelolaan kawasan konservasi tersebut. Ia menyebut keberadaan CMC turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat.

"Dampak manfaat dari tempat ini sudah berkontribusi, enggak banyak, mengungkit perekonomian kampung itu sebanyak 2 miliar per tahun," ujarnya.

Saptoyo menjelaskan bahwa kegiatan di kawasan tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 60 orang. Aktivitas ekonomi yang berkembang mencakup jasa pemandu wisata, penyediaan makanan bagi wisatawan, jasa penyeberangan, hingga usaha homestay.

Sementara itu, M. Zamroni memaparkan perjalanan Tunas Hijau yang didirikannya pada 1999 serta pembentukan Akademi Pangeran-Putri Lingkungan Hidup sejak 2002. Berdasarkan data penyelenggara, jumlah peserta yang bergabung dalam webinar tersebut tercatat mencapai 2.587 orang.

Dalam sesi tanya jawab, Hasto turut menyampaikan empat pantun yang telah disiapkannya untuk forum tersebut. Pantun-pantun itu mengangkat tema pelestarian lingkungan, kecintaan terhadap Tanah Air, peran generasi muda, dan pentingnya menjaga kehidupan.

Pantun pertama berbunyi: "Pak Saptoyo dan Roni merawat pertiwi, mangrove jadi teman di kehidupan sehari-hari. Keringat deras, darah, dan air mata menjadi pupuk bagi bumi, alam pun menjadi hijau berseri-seri."

Pantun kedua: "Bung Karno dan Bu Mega pencinta Indonesia sejati. Merawat pertiwi muncul dari dalam hati. Bangunlah jiwa anak bangsa bagi ibu pertiwi."

Pantun ketiga: "Politik adalah kehidupan. Menggerakkan anak muda sebagai pemilik masa depan. Teruslah berjuang merawat kehidupan, jaga alam sebagai ciptaan Tuhan."

Adapun pantun keempat: "Pantai Clungup getarkan jiwa raga. Menanam mangrove dengan penuh semangat. Di sini alam pun bersukacita persembahkan oksigen bagi semesta."

Dorong Kredit Karbon Berbasis Komunitas

Selain membahas pelestarian lingkungan dan dampak ekonomi masyarakat, forum tersebut menyoroti peluang pengembangan kredit karbon berbasis komunitas agar dapat diterima dan dibeli oleh pasar global.

Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo menceritakan pengalamannya menghadiri pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington pada April lalu. Dalam pertemuan itu, menurut Andreas, pembeli karbon berskala besar justru menunjukkan ketertarikan terhadap unit kredit karbon yang berasal dari komunitas.

Salah satu tantangan yang muncul adalah bagaimana menyatukan komunitas-komunitas kecil agar mampu memenuhi skala permintaan pasar. Dengan pengorganisasian yang tepat, potensi kredit karbon dari masyarakat diharapkan dapat memiliki akses lebih luas terhadap pembeli global.

Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDI Perjuangan Eriko Sotarduga mengakui bahwa upaya tersebut menghadapi berbagai tantangan, terutama karena persyaratan perdagangan karbon yang beragam. Ia menyatakan persoalan itu perlu diperjuangkan melalui jalur legislatif agar masyarakat yang berkontribusi dalam pelestarian lingkungan juga memperoleh manfaat ekonomi.

"Kita minta kepada Pak Andreas, kepada Pak Dolfie, kepada Pak Said Abdullah yang ada dari Jawa Timur untuk memperjuangkan perdagangan karbon ini. Bahwa yang berbuat harus menerima manfaatnya," ujarnya.

Eriko berharap kawasan konservasi CMC Tiga Warna di Malang Selatan dapat menjadi percontohan pengembangan kredit karbon berbasis komunitas di Indonesia.

"Mari kita sama-sama berjuang, kita berdoa, kita berupaya, saudara-saudara kita di parlemen, bisa memperjuangkan ini sehingga terwujud. Dan kita doakan Clungup menjadi yang pertama," kata Eriko.

Kunjungan dan aksi penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari rangkaian Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Penggiat Lingkungan Mangrove yang berlangsung sejak Jumat (16/10).

Rangkaian kegiatan meliputi workshop yang melibatkan anak muda, ibu-ibu, dan nelayan, deklarasi komunitas penggiat lingkungan, serta aksi penanaman mangrove dan pemungutan sampah di kawasan CMC Tiga Warna.

Melalui kegiatan ini, pelestarian mangrove diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan ekosistem pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.