Hati-hati Buat yang Doyan Konsumsi Kol Goreng
·waktu baca 2 menit

Hati-hati buat yang doyan konsumsi kol goreng. Ada bahaya mengintai dari kol goreng, yang biasa jadi hidangan pendamping saat menyantap pecel lele atau makanan lainnya.
Seperti dalam siaran pers IPB University, Senin (16/6) kol goreng menyimpan bahaya kesehatan yang jarang disadari.
Menurut Dr Zuraidah Nasution, dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University, proses menggoreng dapat merusak kandungan zat gizi mikro pada sayuran, terutama vitamin yang larut dalam air.
Metode pengolahan sayur yang tidak tepat, seperti digoreng, kandungan gizinya bisa berkurang.
“Cara terbaik mengolah sayuran adalah dengan menggunakan prinsip pemaparan panas yang minimal dan penggunaan air yang tidak berlebih, seperti ditumis atau dikukus,” jelasnya dalam salah satu tayangan di kanal YouTube IPB TV.
Menggoreng sayuran, terutama dengan teknik deep frying, menyebabkan air dalam sayuran menguap. Hal ini menciptakan rongga yang kemudian terisi oleh minyak goreng, sehingga menambah asupan lemak dan kalori ke dalam tubuh.
“Tanpa disadari, kita menambahkan lemak ekstra ke tubuh hanya karena ingin mendapatkan tekstur renyah dari sayur yang digoreng,” tambah Dr Zuraidah.
Selain meningkatkan kandungan lemak, proses penggorengan dengan suhu tinggi juga dapat memicu oksidasi lemak dalam minyak goreng.
Oksidasi ini menghasilkan senyawa berbahaya, termasuk senyawa karsinogenik yang berpotensi meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Meskipun kol goreng sebagai pelengkap makanan terasa nikmat dan menambah selera, perlu diingat bahwa sayuran sebaiknya diolah dengan cara yang lebih sehat.
Sayur tetap dapat memiliki tekstur renyah tanpa harus digoreng, yakni dengan metode mengukus atau menumis dengan waktu singkat dan sedikit air.
“Sayur yang digoreng memang enak. Namun, akan jauh lebih baik dan menyehatkan bila kita mengolahnya dengan teknik yang mempertahankan nilai gizinya,” pesan Dr Zuraidah.
Dengan memilih metode memasak yang tepat, masyarakat tetap bisa mendapatkan manfaat optimal dari sayuran tanpa harus khawatir kehilangan gizi atau menambah risiko kesehatan.
