Hati-Hati, Semua Tindakan yang Bikin Orang Merasa Tertindas Itu Bullying
ยทwaktu baca 3 menit

Kata 'bully' sudah tidak lagi terdengar asing di masyarakat. Tindakan memojokkan orang lain ini kerap ditemukan di mana saja, termasuk di sekolah.
Meski menurut data KPAI dari tahun 2016-2020 jumlah korban kekerasan di sekolah terus menurun, perilaku ini tetap harus diwaspadai.
Sebab, bukan hanya tindakan kekerasan fisik seperti memukul, tetapi tindakan verbal yang memojokkan seseorang juga termasuk dalam kategori bully alias perundungan.
Psikolog Klinis dari Eka Hospital BSD Reynitta Poerwito bahkan menegaskan segala tindakan yang membuat orang lain merasa tertindas adalah bully.
"Jadi segala bentuk penindasan kekerasan yang dilakukan secara sengaja gitu ya terhadap orang lain dan orang itu tuh mungkin bisa merasa tertekan kemudian merasa malu dipermalukan gitu ya," ujar Reynitta Poerwito kepada kumparan, Senin (21/11) pagi.
"Kita mesti melihat konteksnya kalau ada satu orang yang merasa tertekan tertindas artinya memang bentuk apa pun perilakunya yaitu sudah termasuk bullying gitu," lanjutnya.
Reynitta mencontohkan tindakan bully bisa bermacam-macam. Mulai dari kekerasan fisik, ejekan, olokan, dan ujaran yang menyerang emosional korban, ataupun ajakan untuk menjauhi seseorang.
Menurut psikolog klinis ini selama ada orang yang dituju dan ia merasa tertekan, terpojok, atau dipermalukan atau tidak merasa dilibatkan, itu termasuk perilaku bully.
Sementara, Komisioner KPAI Retno Listyarti membagi perilaku bully ke dalam 3 kategori yaitu:
Kekerasan fisik contohnya saat pelaku menampar, menendang, mencubit, dll.
Kekerasan verbal misalnya saat pelaku membentak, membanding-bandingkan, menghina, mengejek, dll.
Kekerasan sosial dengan cara mengucilkan, membeda-bedakan, mendiamkan, dll.
Psikolog Dian Wisnuwardhani mendefisikan perilaku bullying sebagai tindakan kekerasan yang diberikan secara fisik, verbal, nonverbal, ataupun secara virtual (cyber bully) yang dilakukan oleh seseorang yang biasanya memiliki rasa kuasa yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang menjadi korban bullying.
Penyebab Anak Jadi Pelaku Bully
Ada beberapa situasi yang membuat anak bisa jadi pelaku bullying menurut Psikolog dari Universitas Indonesia Dian Wisnuwardhani. Ia menyebut bahwa salah satu penyebab pelaku perundungan adalah anak yang merasa dominan dan berkuasa di kelompoknya.
"Jadi karena dia merasa berkuasa merasa dominan berkuasa dan punya anggota-anggota kelompok yang lebih banyak, maka dia merasa bisa melakukan tindakan kekerasan itu dibandingkan dengan teman-teman yang menjadi korban," ujar Dian Wisnu kepada kumparan, Senin (21/11) pagi.
Penyebab lainnya, kata Dian, yakni pengaruh sosial saat anak mencontoh perilaku dari sekitarnya. Bila anak melihat tindakan umpamanya kakak kelasnya yang membully, ia juga bisa meniru tindakan tersebut ke depannya. Di beberapa tempat bullying ini bahkan jadi budaya.
Kondisi keluarga dan lingkungan di sekitar tempat tinggal juga bisa jadi penyebab anak punya perilaku mem-bully. Dian mencontohkan saat seorang kakak di keluarga punya kebiasaan menyuruh adiknya, perilaku itu bisa terbawa ke lingkungan di luar rumah.
Dian menjelaskan kondisi juga bisa berlaku sebaliknya. Saat seseorang punya posisi yang lemah di satu tempat kemudian punya dominasi di tempat lain, ia bisa jadi punya rasa balas dendam untuk melakukan bully.
"Adiknya dia merasa di rumah tidak bisa melakukan bullying karena ada yang paling dibully di rumah, maka kemudian dibawa ke sekolah dan dia menjadi orang yang paling hebat karena dia ada rasa balas dendam," ujar Dian.
Sementara itu Komisioner KPAI Retno Listyarti menekankan perilaku anak yang amat dipengaruhi oleh pengasuhannya di lingkungan keluarga. Retno menyebut keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam menanamkan dan membentuk karakter anak.
Ia menegaskan pengasuhan yang positif akan membuat anak-anak tumbuh kembang secara optimal dan berperilaku welas asih dan menghargai Hak Asasi Manusia dan sebaliknya.
"Sebaliknya pengasuhan yang negative, seperti sering dipukul dan dimaki, maka anak akan membentuk karakter penuh kekerasan karena meniru orang dewasa di sekitarnya, anak belajar dari apa yang dia lihat dan dia alami," ujar Retno kepada kumparan melalui pesan teks, Senin (21/11) siang.
