Heboh Dugaan Skandal Pemalsuan Riset Ilmiah oleh Sekelompok WNI di Denmark
·waktu baca 5 menit

Sekelompok periset Indonesia diduga memalsukan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark. Dugaan skandal pemalsuan riset ini viral setelah diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5). Masalah ini menjadi perbincangan di media sosial di Indonesia kemudian.
Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.
ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.
Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).
"Yang paling mind blowing adalah salah satunya ada grafik yang menyatakan serotipe 0. Di situ awal kecurigaan. Di Streptococcus pneumoniae itu ada 107 serotipe tapi tidak ada serotipe 0," ungkap Dwi saat berbincang dengan kumparan, Selasa (26/5).
Adapun Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri penyebab penyakit pneumokokus. Bakteri ini diklasifikasikan ke dalam serotipe berdasarkan struktur kimia kapsul polisakarida yang menyelubunginya. Serotipe inilah yang menentukan keganasan bakteri dan menjadi dasar pembuatan vaksin.
Selain itu, lanjut Dwi, lokasi pengumpulan data dari sejumlah negara dalam abstrak tersebut juga tidak masuk akal. Sebab, kata dia, penelitian yang disodorkan itu membutuhkan large consortium di beberapa negara. Termasuk membutuhkan peneliti lokal di negara tersebut.
"Kalaupun setelah ini dibilang bahwa itu salah framing atau itu sebenarnya adalah data sekunder, data sekunder itu juga sebenarnya adalah harus bisa dijelaskan gitu sumbernya apa, data curation-nya seperti apa, data wrangling-nya seperti apa," ungkapnya.
"Saya tetap bisa dengan yakin menyatakan bahwa itu ada indikasi besar fabrikasi data atau abstraknya ditulis dengan AI-generated. Banyak red flag, red flag yang sebenarnya bahasa-bahasanya itu bahasa-bahasa AI," ungkapnya.
Abstrak penelitian yang dimaksud Dwi salah satunya berjudul Refugee and Displaced Elders Facing Winter Viral Pneumococcal Syndemics: CampCo-Infection Screening, Vaccination Gaps and Surge Preparedness in Humanitarian Settings across The Middle East And Africa. Dalam abstrak penelitian itu, sekelompok peneliti tersebut mengeklaim telah mengevaluasi 12 kamp besar di Lebanon, Yordania, Bangladesh, dan Sudan Selatan.
We evaluated 12 large camps in Lebanon, Jordan, Bangladesh and South Sudan using retrospective surveillance across three winters (2020–2023) plus a prospective elder respiratory triage pilot. Facility and laboratory records provided data on viral testing, blood culture confirmed invasive pneumococcal disease, oxygen use and bed occupancy. In the pilot, adults ≥60 years with acute respiratory illness underwent standardised triage, rapid influenza/SARS-CoV-2 tests and targeted pneumococcal blood cultures, predefined surge triggers activated extra staff and oxygen points. We compared attack rates, co-infection patterns and case-fatality before and after triage implementation
Kami mengevaluasi 12 kamp besar di Lebanon, Yordania, Bangladesh, dan Sudan Selatan menggunakan surveilans retrospektif selama tiga musim dingin (2020-2023), serta pilot prospektif triase pernapasan lansia. Catatan fasilitas dan laboratorium menyediakan data mengenai pengujian virus, penyakit pneumokokus invasif yang terkonfirmasi melalui kultur darah, penggunaan oksigen, dan tingkat keterisian tempat tidur. Dalam pilot tersebut, orang dewasa berusia ≥60 tahun dengan penyakit pernapasan akut menjalani triase terstandarisasi, tes cepat influenza/SARS-CoV-2, dan kultur darah pneumokokus yang ditargetkan. Pemicu lonjakan yang telah ditetapkan sebelumnya mengaktifkan tambahan staf dan titik oksigen. Kami membandingkan angka serangan, pola koinfeksi, dan tingkat fatalitas kasus sebelum dan sesudah implementasi triase.
Kejanggalan lain yang ditemukan Dwi adalah identitas anggota kelompok riset tersebut. Menurutnya, satu anggota kelompok periset tersebut telah memalsukan identitas selama presentasi dengan menggunakan nama-nama yang berbeda, termasuk menggunakan nama laki-laki, berganti jilbab, dan kalung identitas berbeda. Dwi bertemu dengan periset tersebut pada 18 Mei 2026.
"Itu persis di depan mata saya. Enggak ada sekat sama sekali. Benar-benar di depan mata saya. Mungkin si mbaknya buru-buru atau apa jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya," ungkap dia.
Diduga untuk Mendapat Travel Grant
Menurut Dwi, periset yang ingin mempresentasikan temuannya di ISPPD dapat memanfaatkan travel grant atau hibah perjalanan. DI ISPPD, kata dia, total ada 174 travel grant yang bisa dimanfaatkan periset. Sebanyak 96 travel grant di antaranya berasal dari Gates Foundation. Semua itu diakomodir oleh Kenes Group, sebuah penyelenggara internasional yang banyak membidani konferensi ilmiah, termasuk ISPPD.
Lalu, apa saja fasilitas hibah tersebut?
Dwi menyebut hibah yang bisa didapat bisa mencapai sekitar 2.500 euro atau sekitar Rp 52 juta per orang. Akomodasinya mencapai 200 euro dalam sehari. Sementara acara tersebut berlangsung selama lima hari.
"Di ISPPD itu registrasinya untuk yang non-member, bukan bagian dari komunitas peneliti International Society ini, ya, itu 715 Euro. Kemudian mungkin bisa diperkirakan aja penerbangan dari Indonesia ke Copenhagen seperti apa, dan itu akomodasi dikasih untuk 5 hari termasuk breakfast dan juga makan on-site gitu seperti itu," katanya.
Dwi sendiri merupakan penerima hibah tersebut untuk mewakili kampusnya. Abstrak ilmiahnya berjudul Capsules in Disguise: Abundant Pneumococcal Capsular Polysaccharide (CPS)–Like Loci in Non-Pneumococcal Viridans Group Streptococci (VGS), serta Sharpening the Boundaries: Core Genome Phylogeny Distinguishes Streptococcus Pneumoniae From Closely Related Viridans Group Streptococci (VGS).
Travel Grant Dibatalkan
Dwi menyebut sudah melaporkan dugaan fabrikasi data tersebut ke panitia pada 19 Mei 2026. Menurutnya, panitia akhirnya membatalkan hibah untuk kelompok periset tersebut pada 21 Mei 2026. Hanya saja pihak panitia memang tidak merilis informasi itu ke publik.
"Nah itu enggak ada [rilis]. Mereka apa namanya si konferensinya itu enggak yang dia ngasih press release atau apa ya seperti itu. Cuma saya ada rekaman obrolan saya sama si organizing committee-nya sih yang ini yang in-charge untuk reimbursement travel grant seperti itu," ungkapnya.
kumparan sudah mengirimkan email permohonan wawancara kepada ISPPD; selain itu, kumparan juga sudah mencoba menghubungi periset yang dimaksud, namun hingga berita ini tayang, belum ada jawaban.
