Heboh Joki Vaksin 16 Kali di Sulsel

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi vaksin corona Johnson & Johnson. Foto: Lucy Nicholson/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi vaksin corona Johnson & Johnson. Foto: Lucy Nicholson/REUTERS

Seorang pria bernama Abdul Rahim di Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) membuat heboh. Dalam sebuah rekaman video yang tersebar di media sosial ia mengaku menjadi joki vaksin corona.

Pekerjaan yang dimaksud sebagai joki ialah menggantikan setiap orang yang ingin mendapatkan kartu vaksin tanpa disuntik. Ia mengaku sudah 16 kali divaksin, sontak pengakuannya tersebut menjadi viral.

"Saya sudah mewakili empat belas orang dan sudah divaksin sebanyak 16 kali. Saya dibayar Rp 100 ribu sampai Rp 800 ribu sekali vaksin," kata Rahim.

Pernyataan Rahin telah dikonfirmasi oleh Kapolsek Sawitto Pinrang, AKP Yusuf Badu. Dia mengatakan, pihaknya langsung bergerak mencari pria yang mengaku telah divaksin sebanyak 16 kali itu.

Dalam interogasi polisi, Rahim mengakui perbuatannya telah menjadi joki vaksin. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan uang.

"Sudah dua hari lalu diperiksa. Dan saat ini kami tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, belum ada laporan dari Satgas COVID-19," kata Yusuf, Rabu (22/12).

Terkait apakah Abdul Rahim bisa dipidana, Yusuf menyebut harus ada laporan dari Satgas COVID-19 setempat agar pidananya bisa ditindaklanjuti.

Dinkes Sulsel Periksa Darah-Urine Joki Vaksin

Abdul Rahim, joki vaksin 16 kali di Sulsel. Foto: Dok. Istimewa

Polisi bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulsel mengambil sampel darah dan urine Abdul Rahim. Tindakan itu dilakukan pada Selasa (21/12).

Pengambilan sampel darah dan urine pria tersebut, untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Hal itu dilakukan, untuk mengetahui efek samping atau gejala yang ditimbulkan dengan suntikan vaksin COVID-19, yang melebih batas anjuran pemerintah.

"Untuk mengecek efek sampingnya. Tapi, untuk saat ini berdasarkan pandangan mata, Rahim baik-baik saja. Tapi kita tidak tahu organ dalamnya. Makanya lagi dicek," kata Kasat Reskrim Polres Pinrang, AKP Deki Marizaldi kepada kumparan, Rabu (22/12).

Dinkes Sulsel: Joki Vaksin 16 Kali Kelalaian Vaksinator, Kami Evaluasi

Plt Kadis Kesehatan Sulsel dr. Arman Bausat. Foto: Dok. Istimewa

Usai kasus joki vaksinasi itu mencuat, Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel dr.Arman Bausat mengungkapkan akan mengevaluasi seluruh petugas vaksinator yang ada di daerahnya.

Arman selaku Koordinator Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Sulsel ini, akan mengevaluasi vaksinator. Sebab, hal ini terjadi karena adanya kelalaian petugas.

"Soal kelalaian bisa saja. Tapi kita tidak bisa tahu siapa vaksinatornya. Karena ada banyak vaksinator," kata dia di kantornya, Rabu (22/12).

Dia berharap, vaksinator di lapangan agar bekerja dengan baik. Vaksinator betul-betul memperhatikan setiap orang bahkan pasien yang ingin divaksinasi COVID-18. Harus mencocokkan identitas dengan pasien.

"Ini juga jadi pembelajaran bagi Vaksinator kita untuk cek KTP dan muka. Kalau ada kesalahan harus diperbaiki kesalahan ini. Kalau banyak orang bisa saja, cuma liat sekilas KTP saja tidak perhatikan muka," ungkapnya.

Takut Disuntik

Ilustrasi divaksin. Foto: Shutter Stock

Dalam kasus ini kepolisian tidak hanya memeriksa Abdul Rahim. Kasat Reskrim Polres Pinrang, AKP Deki Marizaldi mengatakan institusinya juga memanggil belasan orang yang menggunakan jasa joki vaksin dari pria tersebut.

Dari belasan orang itu, baru 9 yang sudah diperiksa di Polres Pinrang. 9 orang tersebut mengaku menggunakan jasa joki vaksin Abdul Rahim karena takut disuntik. Tapi, mereka membutuhkan sertifikat vaksinasi untuk bepergian dan juga keperluan lainnya.

"Ada yang menawarkan dan ada juga yang ditawari Rahim. Dan pengakuan Rahim, dia tidak takut disuntik karena butuh uang," kata Deki.

"Mereka takut disuntik, lanjut Deki.

Deki hingga saat ini masih memeriksa intensif 9 orang itu. Dia juga belum menentukan status hukum terhadap 9 orang tersebut.