Heboh UGM vs ITB Usai Pilkada Jakarta
"Kemenangan Anies ini adalah kekalahan telak bagi ITB"
Begitu kira-kira pekikan semangat menggebu dari seorang alumni ITB, Lena Ganda Saptalena, di akun media sosial Facebooknya.
Postingan Lena ini viral di media sosial. Ia terlihat merasa kampus tercintanya 'dikalahkan' oleh kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).
Penyebabnya adalah kemenangan Anies Baswedan pada hasil quick count Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Ia menyebut, posisi-posisi penting di Indonesia kini didominasi oleh lulusan UGM.
"RI-1.......... UGM! DKI-1........ UGM! Jateng-1... UGM! DIY-1.........UGM! Benar-benar negara ini telah dikuasai oleh penjajah UGM! Terlalu!!," ungkapnya.
Singsingkan lengan badjoe kalian! Kita ospek adik2 kita 100x lebih keras! Karena kehidupan njata itoe keras, djenderal! Kita godok adik2 kita di kawah tjandradimoeka agar kelak mereka siap mengembaliken tampoek kepemimpinan ke tangan pemilik negeri jang sjah, jaitoe seperti pendiri negeri ini, aloemni ITB gadjah doedoek!
Memang benar, jika ditilik posisi-posisi yang disebutkan tadi diisi oleh lulusan UGM. Presiden Joko Widodo merupakan lulusan Fakultas Kehutanan UGM. Sementara itu Anies merupakan lulusan Fakultas Ekonomi UGM, Ganjar Pranowo yang notabene gubernur Jateng adalah alumnas Fakultas Hukum UGM dan Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah salah satu produk terbaik asal FISIP UGM.
Selain nama-nama kepala daerah tersebut, masih ada beberapa lulusan UGM yang mengisi posisi penting di Indonesia. Mereka adalah Pratikno, Menteri Sekretaris Negara, Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan, Retno Lestari Priansari Marsudi, Menteri Luar Negeri, dan Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ada juga nama Menristekdikti Muhammad Nasir yang mendapatkan gelar S2 nya di sana.
Sementara menteri dari ITB hanya ada satu nama yakni Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Namun untuk jabatan menteri, UI menyumbangkan lebih banyak nama. Mereka lulusan sarjana UI adalah Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. Selain itu ada juga Bambang Brodjonegoro, Khofifah Indah Parawansa dan Rudiantara pernah mengenyam pendidikan S2 di sana.
Namun jika kembali dengan pernyataan Lena, kita lebih bisa membandingkannya lewat alumnusnya yang menjadi kepala daerah. Ternyata pernyataan Lena yang terkesan ingin menyemangati alumnus ITB untuk berkarya di dunia pemerintahan Indonesia ada benarnya. Sebab, dari 33 provinsi yang ada di Indonesia tidak ada satupun lulusan ITB yang menjadi pemimpin daerah.
Dari data yang dihimpun kumparan (kumparan.com) kampus terbanyak yang mencetak pemimpin daerah adalah UGM dengan 3 wakil seperti disebutkan di atas. Disusul dengan Universitas Sumatera Utara dan Universitas Indonesia yang lulusannya mengisi posisi gubernur.
Berikut daftar lengkap gubernur (saat ini) di Indonesia beserta kampusnya:
Aceh: Zaini Abdullah: USU
Sumut: Tengku Erry Nuradi: USU
Sumbar: Irwan Prayitno: UI
Riau: Arsyadjuliandi Rachman: UNS
Jambi: Zumi Zola: IPB
Sumsel: Alex Noerdin Trisakti
Bengkulu: Ridwan Mukti: UII
Lampung: Muhammad Ridho Ficardo: UNPAD
Roestam Effendi: Babel: lulusan SMA
Kepulauan Riau: Univ Lancang Kuning
DKI Jakarta: Anies Baswedan: UGM
Jawa Barat: Ahmad Heryawan: LIPIA
Ganjar Pranowo Jawa Tengah: UGM
Yogyakarta: Sri Sultan Hamengkubuwono X: UGM
Jawa Timur: Soekarwo : Universitas Surabaya
Banten: Wahidin Halim: Universitas Indonesia
Bali: I Made Mangku Pastika AKABRI
NTB: M. Zainul Majdi: Univ Al Azhar Kairo
NTT: Frans Lebu Raya: Universitas Nusa Cendana
Kalimantan Barat: Cornelis: Akademi Pemerintahan Dalam Negeri
Kalimantan Tengah: Sugianto Sabran: Universitas Palangkaraya
Kalimantan Selatan: Sahbirin Noor: UNISKA Banjarmasin
Kalimantan Timur: Anwar Faroek Ishak: IKIP Malang
Kalimantan Utara: Irianto Lambrie: Universitas Mulawarman
Sulawesi Utara: Olly Dondokambey: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tri Dharma Widya Jakarta
Sulawesi Tengah: Longki Djanggola: Universitas Indonesia
Sulawesi Selatan: Syahrul Yasin Limpo: Universitas Hasanuddin
Sulawesi Tenggara: Nur Alam: Universitas Haluoleo
Gorontalo: Rusli Habibie: Universitas Pasundan
Sulawesi Barat: Ali Baal Masdar: Universitas Nasional
Maluku: Said Assagaf: Universitas Hasanuddin
Maluku Utara: Abdul Ghani Assuba: Universitas Islam Madinah
Papua Barat: Dominggus Mandacan: Universitas Negeri Papua
Papua: Lukas Enembe: Universitas Sam Ratulangi Manado
Namun pertanyaannya, bukankah ITB seharusnya mencetak memang banyak teknokrat bukan pejabat pemerintahan?
