Helikopter Jatuh di Sungai Barito Bawa 3 Awak: 2 WNA Selamat, 1 WNI Masih Dicari

Helikopter Super Puma H225 dengan nomor registrasi VH-HGM yang jatuh di perairan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (8/11), membawa tiga awak. Dua awak berkewarganegaraan Australia telah ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan satu awak Warga Negara Indonesia (WNI) masih dalam pencarian.
Kapusdatin BNPB, Berton S. Panjaitan, mengatakan helikopter tersebut tengah menjalankan misi operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam penugasan BNPB. Berdasarkan laporan awal, tiga awak yang berada di dalam helikopter tersebut terdiri dari dua pilot dan satu Helicopter Landing Officer (HLO).
Dua pilot berkewarganegaraan Australia tersebut bernama Hugh Andrew John Tait dan Michael John Bettridge. Sementara itu, awak asal Indonesia bernama Yayan Supyansuri yang bertugas sebagai HLO.
"Berdasarkan laporan awal Basarnas Kantor Basarnas Banjarmasin, dari tiga awak helikopter ada dua yang telah ditemukan dalam kondisi sehat, yaitu Hugh Andrew John Tait dan Michael John Bettridge. Sementara itu, satu orang awak lainnya yaitu Yayan Supyansuri masih dalam pencarian," kata Berton dalam konferensi pers, Minggu (8/11).
Kecelakaan helikopter tersebut terjadi di perairan Sungai Barito, tepatnya di wilayah Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Setelah menerima informasi kejadian tersebut, Kantor SAR Banjarmasin langsung mengerahkan tim untuk melakukan operasi pencarian dan pertolongan. Sebanyak 18 personel diberangkatkan menuju lokasi kejadian pada pukul 13.10 Wita.
Tim bergerak menggunakan kendaraan rescue dan kapal rigid inflatable boat (RIB). Lokasi kejadian berjarak sekitar 141 kilometer dari Kantor SAR Banjarmasin atau sekitar 71 mil laut dari Dermaga SAR Basirih.
Berdasarkan perhitungan awal, waktu tempuh menuju lokasi diperkirakan sekitar lima jam.
Dalam operasi pencarian tersebut, sejumlah unsur turut dilibatkan, mulai dari Kantor SAR Banjarmasin, TNI Angkatan Udara, Polri, Babinsa, hingga masyarakat setempat.
Peralatan yang dikerahkan meliputi RIB, kendaraan rescue, perahu karet, peralatan penyelamatan di air, peralatan selam, Aqua Eye, alat komunikasi, serta perlengkapan pendukung lainnya.
Berton mengatakan BNPB terus berkoordinasi dengan Basarnas, BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur terkait untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan terhadap satu awak yang masih hilang.
Selain mendukung operasi pencarian, BNPB juga memastikan dua awak yang telah ditemukan mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan penanganan medis sesuai kebutuhan.
"BNPB berkoordinasi dengan unsur terkait untuk memastikan kedua pilot mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan penanganan medis yang diperlukan," ujarnya.
Ia juga menyampaikan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap proses pencarian dan penanganan seluruh awak helikopter, termasuk keluarga mereka.
"Kami memberikan perhatian penuh terhadap upaya pencarian tersebut. Seluruh unsur terkait telah berkoordinasi untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan," ujar Berton.
Sebelumnya, sebuah helikopter yang digunakan untuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau water bombing dilaporkan jatuh di sungai Desa Tabatan Baru, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (8/11).
