Heru Budi Bicara Konsep Istana di IKN: Sesuai Program Zero Emission

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pj Gubernur DKI Heru Budi Hartono saat konferensi pers di RSUD Koja, Jumat (3/3).  Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pj Gubernur DKI Heru Budi Hartono saat konferensi pers di RSUD Koja, Jumat (3/3). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, mensosialisasikan konsep ramah lingkungan yang bakal diterapkan di bakal lokasi istana negara di IKN, Kalimantan Timur. Menurutnya konsep pembangunan istana presiden ini sudah sesuai dengan rekomendasi yang diberikan Ikatan Alumni Universitas Sepuluh Nopember (IKA ITS) untuk mewujudkan net zero emission di 2060.

“Ini yang semua green, hijau, taman, tentunya bisa mendukung program-program tadi, zero emission,” kata Heru sambil memamerkan peta istana negara di IKN dalam ketika memberikan keynote speech di Focus Group Discussion dengan tema Peran Alumni Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (7/3).

Jika melihat peta pembangunan IKN yang ditampilkan oleh Heru, maka pembangunan IKN dibagi menjadi 3 paket zona pengerjaan. Paket yang pertama mencakup pembangunan istana negara dan lapangan upacara.

kumparan post embed

Lalu paket kedua berisi paket pengerjaan masjid, paviliun presiden, kantor presiden, wisma negara, gedung edukasi/museum, hingga kantor staf khusus presiden.

Sedangkan dalam paket ketiga pengerjaan mencakup pembangunan kantor sekretariat presiden, mess paspampres, bangunan logistik dan bangunan pemadaman kebakaran.

Pria yang juga menjabat sebagai Penjabat Gubernur DKI itu menambahkan, untuk mempersiapkan sebuah kota yang ramah lingkungan, maka diperlukan perencanaan tata kota yang matang.

Dari peta bisa terlihat bahwa lebih dari 50 persen proyek pengerjaan didominasi oleh pohon berwarna hijau. Konsep tata kota inilah yang disebutnya ramah lingkungan.

“Transisi DKI ke IKN adalah kita sudah mengubah konsep tata ruang menyesuaikan dengan kondisi yang akan datang, 10 tahun ke depan,” tutur Heru.