Hikikomori Intai Masyarakat Jepang

Pemerintah Jepang mendefinisikan hikikomori sebagai suatu kondisi seseorang yang menarik diri dari kehidupan sosial dalam jangka waktu lama, setidaknya selama 6 bulan. Mereka berisiko menghadapi kesulitan besar sebagaimana juga orang tua mereka.
Pemerintah berencana untuk melakukan survei nasional pada awal November mengenai hikikomori antara usia 40 sampai 64 tahun. Ini merupakan studi pertama untuk jenisnya, demikian Japan News dari Yomiuri Shimbun, dipantau di Kyoto hari ini, Sabtu (11/8).
Menurut rencana pemerintah akan merilis hasil survei pada akhir tahun fiskal yakni pada bulan Maret, sebelum menyusun langkah-langkah untuk membantu kelompok sosial dari usia paruh baya ini.
Survei ini akan didistribusikan ke 5.000 orang responden yang dipilih secara acak antara usia 40 hingga 64 dan termasuk pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Responden yang menyatakan bahwa mereka jarang meninggalkan kamar mereka sendiri atau tidak pergi ke luar kecuali mengunjungi toko-toko terdekat akan diklasifikasikan sebagai menarik diri dari kehidupan sosial.
Survei ini akan memasukkan pertanyaan-pertanyaan untuk individu yang telah memilih menarik diri dari masyarakat mengenai kapan, mengapa dan untuk berapa lama mereka hidup sendirian.

Sebelumnya pemerintah telah melakukan survei nasional mengenai hikikomori pada 2010 dan 2015 dengan menggunakan metode serupa, berdasarkan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Bantuan untuk Anak-anak dan Remaja yang mulai berlaku pada tahun 2010.
Namun survei tersebut, bagaimana pun, hanya mencakup mereka yang berusia antara 15 hingga 39 tahun, dengan asumsi bahwa hikikomori adalah kondisi khusus untuk orang muda dan biasanya disebabkan oleh perundungan atau membolos dari sekolah tanpa alasan.
Dari kelompok usia ini perkiraan jumlah mereka yang menarik diri dari kontak sosial tampaknya menurun terlihat antara dua survei, yakni dari sekitar 700.000 pada 2010 menjadi 540.000 lima tahun kemudian.
Namun, sejumlah besar dari kelompok usia 40 tahun ke atas telah ditemukan keberadaannya, terutama karena lebih banyak orang telah menarik diri dari kehidupan sosial untuk jangka waktu yang lama.
Sebagai contoh, menurut survei yang dilakukan pada tahun 2017 oleh pemerintah distrik Saga, sekitar 70 persen dari 634 orang yang menarik diri dari kontak sosial adalah berusia 40 tahun atau lebih.
Dalam studi lain yang dilakukan pada 2015 oleh pemerintah distrik Yamanashi, kelompok usia tersebut menyumbang sekitar 60% dari 818 orang yang menarik diri dari kehidupan sosial.
Karena orang-orang yang tidak memiliki hubungan sosial bertambah tua, maka semakin sulit bagi mereka untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan mencari pekerjaan.
Masalah lainnya adalah bahwa mereka yang menarik diri dari kehidupan sosial semakin tua dan orang tua mereka pun juga semakin menua, mereka akan menghadapi kemungkinan kehancuran finansial ketika yang terakhir tidak dapat lagi bekerja.
Situasi ini disebut “masalah 8050” mengacu pada usia orang tua 80 tahun dengan anak usi 50 tahun yang menarik diri dari kehidupan sosial.
