Hindari Lonjakan COVID-19 di Kota, Keluarga China Ungsikan Lansia ke Desa
·waktu baca 4 menit

Sejumlah keluarga di China mengungsikan para kerabat lansia dari kota-kota besar untuk melindungi mereka dari gelombang COVID-19 yang sedang melanda. Mayoritas keluarga melakukan hal tersebut ialah mereka yang tergolong mampu.
Salah satunya adalah seorang perempuan berusia 29 tahun di kota Shenzhen, Lily Wang. Setelah dinyatakan positif corona beberapa hari yang lalu, dia berjuang melawan demam tinggi dan sakit tenggorokan dalam isolasi mandiri di apartemen kecilnya.
Terlepas dari penyakitnya sendiri, Wang kerap memikirkan neneknya yang sejauh ini masih terhindar dari penyakit berat.
Sebab, hanya dua hari setelah kedua orang tuanya mengantarkan sang nenek ke daerah pedesaan, mereka jatuh sakit. Wang mengatakan, sekarang hampir semua rekan kerjanya terpapar corona pula.
"Orang tua saya membawa nenek saya keluar kota tepat waktu," ungkapnya melalui telepon sambil terbatuk-batuk, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (24/12).
Sejak pihak berwenang China mencabut kebijakan ketat nol-COVID pada awal Desember, ada banyak laporan soal orang yang jatuh sakit karena virus corona. Rumah sakit kewalahan dengan pasien, sedangkan krematorium kelimpungan mengimbangi masuknya jenazah.
Kisah-kisah serupa inilah yang mendorong banyak keluarga segera membawa pergi kerabat mereka yang lebih tua.
"Keluarga saya memutuskan bahwa hal teraman yang harus dilakukan untuk kakek nenek saya adalah mengeluarkan mereka dari Beijing sehingga mereka dapat keluar dari badai COVID dengan aman jauh dari keramaian," ungkap warga Beijing berusia 24 tahun, Shuwen Lu.
Lu—yang juga sedang berjuang melawan infeksi corona—menceritakan bagaimana kakek neneknya berpindah ke sebuah rumah milik keluarganya di sebuah desa kecil.
"Situasi COVID benar-benar buruk saat ini," kata Lu.
"Seandainya mereka tinggal di kota, mereka mungkin akan segera bergabung dengan lansia yang tak terhitung jumlahnya yang sedang sekarat saat ini," tambah dia.
Sejumlah keluarga di Kota Fuzhou dan Shanghai turut mengungsikan kerabat mereka ke komunitas desa yang lebih kecil demi menghindari COVID-19. Sebab, lansia sangat rentan terinfeksi corona.
Menurut laporan, dua pertiga warga berusia 80 tahun ke atas sudah divaksinasi di China. Hanya sekitar 40 persen dari mereka yang sudah menerima suntikan booster menjelang gelombang baru COVID-19.
Tingkat vaksinasi yang lebih rendah dalam populasi lansia dapat berkaitan dengan strategi vaksinasi pada awal pandemi.
Pada saat itu, China memprioritaskan vaksin bagi pekerja penting untuk memastikan ekonomi tidak akan terhenti ketika wabah besar melanda. Seiring populasi lansia mulai menerima vaksinasi, pihak berwenang memperkenalkan strategi nol-COVID.
Keberhasilan awal strategi tersebut dalam melindungi warga akhirnya memperlambat prioritas vaksinasi untuk lansia. Selama hampir tiga tahun terakhir, aturan ini menjaga warga lansia dari penyakit serius dan mencegah varian corona yang tidak terlalu menular.
Namun, ini juga berarti penduduk lansia belum membangun kekebalan alami dari infeksi-infeksi sebelumnya. Sekarang, jutaan orang pun kurang terlindungi dari infeksi corona yang parah saat otoritas mulai melonggarkan pembatasan secara cepat.
Keraguan terhadap vaksin—terutama pentingnya vaksinasi bagi lansia—turut berkontribusi dalam permasalahan yang melanda China.
Lu dan Wang sama-sama mengungkap bahwa kakek nenek mereka pun belum menerima vaksin COVID-19.
"Tentu saja, kakek nenek saya tidak divaksinasi," ujar Lu.
"Pada usia lanjut, siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi bila mereka mendapat suntikan,” imbuh dia.
Sementara itu, Wang menerangkan, neneknya menderita diabetes dan beberapa masalah kesehatan lainnya.
"Dia khawatir, dan keluarga saya juga khawatir, kesehatannya yang buruk tidak akan tahan terhadap vaksin. Jadi, untuk apa mengambil risiko?" tanya dia.
Kekhawatiran ini tak tercermin dalam data resmi. Direktur Pusat Nasional untuk Penyakit Menular, Zhang Wenhong, mengaku telah mengunjungi beberapa panti jompo di Shanghai. Dia mengatakan, jumlah lansia yang mengalami gejala parah sangat sedikit.
Wenhong memperkirakan puncak infeksi akan singgah dalam sepekan mendatang. China kemudian melaporkan 4.128 kasus infeksi bergejala baru pada Jumat (23/12).
Otoritas tidak mencatat kasus kematian baru akibat corona. Pemerintah hanya mengabarkan segelintir kasus kematian terkait corona sejak pembatasan dicabut pada awal Desember.
Gambaran tersebut sangat berbeda dengan unggahan media sosial dan laporan tentang krematorium dan rumah sakit yang penuh sesak.
Mengutip perkiraan dari otoritas kesehatan utama China, Bloomberg pada Jumat (23/12) melaporkan hampir 37 juta orang di negara tersebut mungkin terinfeksi corona dalam sehari pada pekan ini.
"Terlepas dari kekacauan saat ini, sangat tidak mungkin kita akan melihat pemerintah China mengakui telah melakukan kesalahan dengan strategi nol-COVID atau dengan pelonggaran selanjutnya," kata Associate Professor di University of St Thomas, Yao-Yuan Yeh.
"Sebaliknya, mereka akan menyoroti unsur-unsur yang akan membuat kebijakan mereka tampak sukses sambil meremehkan atau mengabaikan insiden yang mengarah pada kegagalan," sambungnya.
