Hindu Dharma Bali Kekeh Benda Sakral Pura Besakih Tidak Akan Diamankan

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM, menaikkan status Gunung Agung dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV) terhitung mulai Jumat (22/9) 20.30 WITA. Pemerintah Kabupaten Karangasem, Bali, sedang berupaya untuk mengamankan pratima atau benda sakral yang ada di Pura Besakih.
Pura Besakih yang merupakan pusat dari seluruh kegiatan pura yang ada di Bali itu hanya berjarak 9 km dari Gunung Agung. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 pura pusat dan 18 pura pendamping.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana menegaskan benda sakral di Pura Besakih tidak akan dipindahkan, meskipun status vulkanik Gunung Agung sudah pada level Awas.
"Keputusan tersebut sudah berdasarkan hasil rapat dengan para pangemong (penanggung jawab wilayah) dan pemangku (pemuka agama) Pura Besakih," kata Prof Sudiana seperti dilansir Antara, Senin (25/9).
Dalam rapat yang membahas upaya penyelamatan benda sakral, diputuskan tidak akan memindahkan benda sakral di Pura Besakih dan sejumlah pura di sekitarnya meskipun berada di kaki Gunung Agung.
"Menurut para pangemong dan pemangku, sesuai dengan sejarah enam kali letusan yang pernah terjadi di Gunung Agung, ternyata belum pernah pratima Pura Besakih digeser ke mana-mana dan terbukti selama ini aman. Mereka pun meyakini kali ini jika pun terjadi erupsi, juga tidak akan menyentuh pratima-pratima di Pura Besakih," paparnya.
Para "pemangku", kata Sudiana, juga siap untuk berdoa setiap hari agar keadaan pura tetap aman dan masyarakat juga selamat di tengah kemungkinan terjadinya erupsi Gunung Agung.
Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta semua pihak memikirkan dan mengkaji untuk penyelamatan benda sakral di kawasan Pura Besakih. Menurutnya, benda sakral tersebut perlu diselamatkan karena sarat dengan perjalanan sejarah umat Hindu. Penyelamatan perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak terburuk dari Gunung Agung.
"Saya berpendapat secara logis harus semua pihak memikirkan aset Pura Besakih, seperti 'pratima' dan benda lainnya. Karena semua itu adalah perjalanan sejarah umat Hindu. Harus semua pihak juga memikirkan dampak terburuk dari Gunung Agung itu," kata Mangku Pastika di sela meninjau Posko Pengungsian Gunung Agung di Tanah Ampo, Karangasem, Bali.
Mangku menuturkan masing-masing pura memiliki benda sakral yang merupakan aset bersejarah dan spiritual. Sehingga harus diamankan dan disimpan di tempat yang lebih aman dan suci yang jauh dari kawasan bencana.
"Hal itu harus diamankan agar tidak sampai rusak. Kalau bisa juga disimpan sementara di tempat yang aman dan suci yang jauh dari kawasan bencana. Misalnya di simpan di Puri Klungkung," ujarnya.
Namun, penyelamatan benda sakral juga tergantung dari "penyungsung" (penanggung jawab) pura untuk menyelamatkan benda pusaka tersebut. Ia meminta "penyungsung" agar bisa mempertimbangkan saran yang ia berikan.
"Saya hanya bisa menyarankan dan memberi pendapat secara logika. Sebab kejadian alam kan tidak bisa diprediksi. Kita berdoa agar kejadian Gunung Agung tidak keras dan cuma sebentar saja," tuturnya.
