Hong Kong Bersiap Hadapi Demo Besar Menentang RUU Lagu Kebangsaan China

Ratusan polisi anti huru-hara dikerahkan mengelilingi kantor Dewan Legislatif kota Hong Kong, Rabu (27/5). Mereka bersiap untuk menghadapi demo besar di tengah perdebatan anggota dewan soal rancangan undang-undang lagu kebangsaan China.
Dalam beberapa hari terakhir situasi Hong Kong memang kembali memanas. Aksi besar pecah pada Minggu lalu, diwarnai bentrok demonstran dengan aparat. Gas air mata dan meriam air ditembakkan saat demonstran membarikade jalan dengan tong sampah dan puing-puing.
Rabu ini, demonstran juga akan melancarkan aksi besar di depan gedung dewan. Mereka berjanji akan mengepung gedung dewan sampai RUU tersebut dibatalkan. Ratusan polisi dikerahkan ke lokasi, ke jalan-jalan dan jembatan yang mengarah ke gedung dewan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pergerakan massa ke arah kantor dewan. Foto-foto yang dipublikasi berbagai kantor berita juga memperlihatkan kelengangan. Barangkali ini disebabkan oleh pemeriksaan polisi yang dilakukan di jalan-jalan menuju ke arah gedung dewan.
Tapi beberapa demonstran mulai terlihat di pusat bisnis kota. Beberapa van polisi berjejer membarikade jalan. Selain dikhawatirkan mengganggu keamanan, aksi protes juga berpotensi menyebarkan lagi virus corona.
"Walau ada ketakutan di dalam hatimu, tapi kau harus bersuara," kata Chang, 29, demonstran yang memakai masker.
Kontroversi RUU Lagu Kebangsaan China
Demonstran kembali turun ke jalan untuk menentang RUU lagu kebangsaan yang ditargetkan jadi Undang-undang bulan depan. RUU ini mengatur perilaku masyarakat jika lagu kebangsaan China "Mars Para Sukarelawan" dinyanyikan.
Jika disahkan jadi undang-undang, maka mereka yang menghina lagu kebangsaan China bisa dipenjara hingga tiga tahun dan/atau denda sampai HKD 50 ribu (Rp 95 juta). Selain itu, RUU ini juga mengatur kewajiban sekolah SD dan SMP mengajarkan lagu kebangsaan China kepada para siswa.
RUU ini diajukan setelah lagu kebangsaan China banyak dilecehkan di Hong Kong. Ketika lagu ini dinyanyikan di berbagai acara, termasuk pertandingan sepakbola, warga Hong Kong menyorakinya.
Warga Hong Kong menolak RUU ini yang menurut mereka bentuk campur tangan China dalam kehidupan mereka. Diatur dalam "satu negara, dua sistem" Hong Kong memiliki pemerintahan dan sistem demokrasi sendiri, tapi tetap berada dalam kuasa China.
Tahun lalu, Demo besar di Hong Kong berhasil menggagalkan RUU ekstradisi ke China. Warga Hong Kong berharap, demo kali ini juga bisa menjegal RUU lagu kebangsaan China.
Tapi polisi Hong Kong telah mengancam. Pada Selasa, mereka mengatakan demonstran yang mencoba membangkitkan aksi rusuh tahun lalu, akan dipenjara hingga lima tahun.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona
