Houthi Sepakat Berhenti Gunakan Tentara Anak dalam Perang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemberontak Houthi di Yaman. Foto: Reuters/Khaled Abdullah
zoom-in-whitePerbesar
Pemberontak Houthi di Yaman. Foto: Reuters/Khaled Abdullah

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (18/4) melaporkan pemberontak Houthi Yaman sepakat untuk membebaskan tentara anak-anak. Selama tujuh tahun pemberontak tersebut telah memakai anak untuk berperang.

Houthi menandatangani apa yang digambarkan PBB sebagai rencana aksi untuk mengakhiri dan mencegah keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata, membunuh atau melukai anak-anak serta menyerang sekolah dan rumah sakit.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan pemberontak berkomitmen untuk mengidentifikasi anak-anak di barisan mereka dan membebaskan mereka dalam waktu enam bulan.

Salah satu diplomat top Houthi, Abdul Eluh Hajar itu menandatangani perjanjian tersebut. Houthi menyebut perjanjian itu sebagai rencana untuk melindungi anak-anak.

Tentara Houthi di Yaman. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

PBB menambahkan, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang beroperasi di pengasingan, juga membuat komitmen serupa dalam beberapa dokumen yang ditandatangani sejak 2014.

Pejabat tinggi PBB Virginia Gamba yang mengawasi anak-anak di zona perang, menyebut langkah Houthi sebagai langkah positif dan menggembirakan.

“Rencana aksi harus dilaksanakan sepenuhnya dan mengarah pada tindakan nyata untuk peningkatan perlindungan anak-anak di Yaman,” kata Gamba di New York, yang turut tanda tangan sebagai saksi komitmen Houthi, seperti dikutip dari Al Jazeera.

PBB melaporkan hampir 3.500 anak telah direkrut dan dikerahkan dalam perang saudara Yaman.

Namun, seorang pejabat senior militer Houthi mengatakan kepada kantor berita The Associated Press pada 2018 kelompok telah melantik 18.000 tentara anak-anak ke dalam tentaranya.

Ilustrasi logo PBB Foto: Reuters

Mantan tentara anak-anak juga memberikan pengakuan kepada kantor berita bahwa anak laki-laki berusia 10 tahun juga turut direkrut.

Namun pada saat itu, seorang juru bicara militer Houthi membantah perekrutan sistematis orang-orang di bawah 18 tahun dan mengatakan ada perintah untuk menolak anak-anak yang mencoba bergabung.

Data PBB menunjukkan lebih dari 10.200 anak tewas atau cacat akibat perang. Tidak jelas berapa banyak yang mungkin menjadi kombatan.

Perang saudara Yaman meletus pada tahun 2014 ketika Houthi yang didukung Iran merebut Ibukota Sanaa dan mengusir pemerintah ke pengasingan.

Koalisi yang dipimpin Saudi, termasuk Uni Emirat Arab, mengintervensi perang pada awal 2015 untuk mencoba mengembalikan pemerintah ke tampuk kekuasaan.

Pemantau perang memperkirakan konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 14.500 warga sipil dan 150.000 orang ketika digabung dengan kombatan. Pertempuran itu juga menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Perang Yaman Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Pihak yang bertikai menyetujui awal bulan April 2022 ini untuk gencatan senjata nasional pertama dalam enam tahun. Pakta dua bulan itu dijadwalkan untuk dimulai selama bulan suci Ramadhan dan meningkatkan harapan tentang membangun momentum untuk perdamaian.

Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi mengundurkan diri pekan lalu. Dewan kepresidenan baru akan menjalankan pemerintahan yang diasingkan dan memimpin negosiasi dengan Houthi.

Arab Saudi dan sejumlah negara lain menyambut baik pergantian kepemimpinan setelah bertahun-tahun pertikaian di antara faksi-faksi anti-Houthi. Seorang juru bicara Houthi menolak pengunduran diri Hadi dan menyebut keputusan yang dibuat dari jauh itu tidak sah.

Ditulis oleh: Sekar Ayu