Houthi: Serangan ke Kapal Perang AS Akan Berlanjut hingga Blokade Gaza Dicabut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bangunan hancur akibat serangan Amerika Serikat di Saada, Yaman, Minggu (16/3/2025). Foto: Naif Rahma/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan hancur akibat serangan Amerika Serikat di Saada, Yaman, Minggu (16/3/2025). Foto: Naif Rahma/REUTERS

Kelompok Houthi menegaskan pihaknya akan terus menyerang kapal perang Amerika Serikat dan mengganggu pelayaran Israel di Laut Merah hingga blokade terhadap Gaza dicabut.

Pernyataan ini disampaikan pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, setelah serangan udara AS di Yaman menewaskan sedikitnya 53 orang pada Sabtu (15/3).

Kapal induk USS Harry S. Truman. Foto: Denis LOVROVIC / AFP

“Kami akan merespons musuh Amerika dengan serangan rudal dan menargetkan kapal perang serta kapal angkatan laut mereka,” kata al-Houthi dalam pidato yang disiarkan televisi, seperti diberitakan Al Jazeera, Senin (17/3).

Militer Houthi mengeklaim telah meluncurkan 18 rudal balistik dan jelajah serta drone ke kapal induk USS Harry S. Truman.

Namun, Washington belum memberikan tanggapan atas serangan ini.

AS Tak Akan Mundur

Kapal menembakkan rudal ke lokasi yang dirahasiakan, setelah Presiden AS Donald Trump melancarkan serangan militer terhadap Houthi di Yaman, Sabtu (15/3/2025). Foto: Komando Pusat AS/HO/REUTERS

Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara dengan alasan melindungi jalur pelayaran di Laut Merah.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan serangan akan terus dilakukan sampai Houthi menghentikan serangan ke kapal-kapal di wilayah itu.

Kami akan terus menyerang sampai mereka berhenti,” kata Hegseth kepada Fox News.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan, kampanye militer ini akan berjalan sampai Houthi tak lagi memiliki kemampuan menyerang kapal.

Washington juga menuduh Iran mendukung Houthi, meski Teheran membantah keterlibatannya.

Bangunan hancur akibat serangan Amerika Serikat di Saada, Yaman, Minggu (16/3/2025). Foto: Naif Rahma/REUTERS

Eks diplomat AS Nabeel Khoury mengkritik keputusan Trump. Ia menilai serangan terhadap Houthi tidak akan menyelesaikan masalah, karena kelompok itu telah terbiasa menghadapi pengeboman dalam konflik yang berlangsung bertahun-tahun.

“Ini bisa diselesaikan dengan diplomasi, bukan dengan bom,” kata Khoury kepada Al Jazeera.

Di tengah ketegangan ini, Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

“Eskalasi lebih lanjut bisa memperburuk ketegangan regional dan memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.