Hubungan Diplomatik China dengan Jepang yang Semakin Panas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bendera Jepan dan China. Foto: NINA IMAGES/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bendera Jepan dan China. Foto: NINA IMAGES/Shutterstock

Hubungan diplomatik antara China dan Jepan semakin memanas. Ini imbas dari pernyataan yang disampaikan oleh PM Jepang Sanae Takaichi di depan parlemen Jepang pada 7 November 2025.

Takaichi mengatakan serangan militer China terhadap Taiwan akan membahayakan keselamatan Jepang dan memicu reaksi militer. Pernyataan ini membuat China marah, dan kini berbuntut panjang.

Sejumlah hal terdampak akibat hubungan diplomatik yang semakin memanas ini. Apa saja?

Jepang Minta Warganya di China Waspada

Menteri Pertahanan Jepang Minoru Kihara di kantor Perdana Menteri di Tokyo, Jepang, Rabu (13/9/2023). Foto: REUTERS/Issei Kato

Jepang memperingatkan warganya yang berada di China untuk meningkatkan tindakan pencegahan keamanan dan menghindari tempat ramai.

Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan imbauan terbaru merupakan seruan langkah keamanan karena sentimen terhadap Jepang yang tercermin di media China memburuk dan berdampak pada hubungan kedua negara.

"Kami telah membuat penilaian berdasarkan pertimbangan komprehensif terhadap situasi keamanan di negara atau kawasan, serta kondisi politik dan sosialnya," kata Kihara tentang pemberitahuan keamanan itu, dikutip dari Reuters, Selasa (18/11).

Kedutaan Besar Jepang di China sebelumnya telah memperingatkan warganya untuk menghormati aturan lokal dan berhati-hati dalam berinteraksi dengan warga China.

Kedutaan juga meminta warga Jepang untuk mewaspadai sekitar mereka saat berada di luar, menyarankan untuk tidak berpergian sendiri, dan mendesak kehati-hatian ekstra saat berpergian bersama anak.

"Jika Anda melihat seseorang atau kelompok yang tampak mencurigakan, jangan menghampiri mereka dan tinggalkan area itu segera," kata pemberitahuan kedutaan.

Distribusi Film Terdampak

Ilustrasi crayon shinchan. Foto: Shutterstock

Ketegangan kedua negara juga berdampak pada distribusi film Jepang di China. Distributor film di China membatalkan pemutaran dua film Jepang. Film animasi "Crayon Shin-chan the Movie: Super Hot! Scorching Kasukabe Dancers" dan komik yang diadaptasi jadi film "Cells at Work!" yang harusnya tayang dalam beberapa minggu ke depan tidak akan tayang sesuai rencana.

TV pemerintah CCTV mengatakan, keputusan yang diambil distributor film merupakan keputusan yang bijaksana yang mempertimbangkan sentimen penonton dalam negeri.

Wisatawan China Batalkan Tiket Pesawat ke Jepang

Tokyo Tower. Foto: Shutter Stock

Wisatawan China membatalkan ratusan ribu tiket penerbangan ke Jepang imbas ketegangan diplomatik ini. Muncul juga laporan agen perjalanan China menangguhkan permohonan visa dan pertukaran budaya akibat memburuknya hubungan dengan Jepang.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (18/11), setidaknya tujuh maskapai China termasuk tiga maskapai negara yang menyatakan akan menawarkan pembatalan gratis kepada wisatawan yang telah memesan tiket ke Jepang.

Analis perjalanan udara, Hanming Li, mengatakan data keberangkatan menunjukkan sekitar 500 ribu tiket penerbangan ke Jepang telah dibatalkan antara tanggal 15 dan 17 November.

Media China, Jimu News, melaporkan Sichuan Airlines telah membatalkan seluruh penerbangan antara Chengdu dan Sapporo dari Januari hingga akhir Maret 2026. Maskapai murah Spring Airlines juga telah membatalkan sejumlah penerbangan ke Jepang. Kedua maskapai mengaku alasannya adalah perencanaan perusahaan.

China merupakan sumber wisatawan terbesar kedua bagi Jepang dan banyak mahasiswa asal China yang menempuh pendidikan di Jepang. Saham perusahaan ritel dan perjalanan Jepang merosot akibat masalah ini.

Li mengatakan ini merupakan pembatalan penerbangan terbesar sejak awal pandemi COVID-19. Namun, hal ini kemungkinan hanya berdampak kecil pada industri dalam negeri.

"Ini bukan kerugian besar bagi maskapai karena pasar China-Jepang lebih kecil kalau dibandingkan dengan keseluruhan pasar domestik dan internasional," kata Li.

China Tolak Jepang Jadi Anggota Tetap DK PBB

Wakil Tetap China untuk PBB Fu Cong. Foto: John Lamparski / AFP

Wakil Tetap China untuk PBB, Fu Cong, mengatakan pernyataan Takaichi sangat keliru dan berbahaya. Hal itu ia sampaikan di Mejelis Umum PBB.

"Pernyataan itu merupakan campur tangan yang sangat serius terhadap urusan dalam negeri China dan pelanggaran serius terhadap prinsip Satu China dan semangat empat dokumen politik antara China dan Jepang," kata Fu dalam debat tahunan Majelis Umum PBB terkait reformasi Dewan Keamanan PBB, dikutip dari kantor berita Xinhua, Rabu (19/11).

"Pernyataan itu merupakan penghinaan terhadap keadilan internasional, tatanan internasional pascaperang, dan norma-norma dasar hubungan internasional, serta merupakan penyimpangan dari komitmen Jepang terhadap pembangunan yang damai," ujar Fu.

"Negara seperti itu sama sekali tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai anggota tetap Dewan Keamanan," tegasnya.

China sejak lama menolak Jepang jadi anggota tetap DK PBB. Dikutip dari China Daily, China menyatakan Jepang tidak pantas menjadi anggota tetap DK PBB karena belum mengoreksi sikapnya sejarah masa lalu, utamanya terkait Perang Dunia II. China menuntut agar Jepang terlebih dulu menangani peristiwa selama Perang Dunia II secara serius.

Upaya Perbaiki Hubungan Hubungan Gagal

Perdana Menteri baru Jepang, Sanae Takaichi, berangkat menuju Istana Kekaisaran, di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang, 21 Oktober 2025 dalam foto yang diambil oleh Kyodo. Foto: Kyodo/via REUTERS

Sumber Kementerian Luar Negeri Jepang mengungkap upaya diplomasi yang dilakukan negaranya untuk meredakan ketegangan diplomatik dengan China gagal.

Dirjen Biro Urusan Asia dan Oseania Kemlu Jepang Masaaki Kanai bertemu dengan Wakil Dirjen Urusan Asia Kemlu China Liu Jinsong bertemu di Beijing dalam upaya meredakan ketegangan politik.

Dikutip dari Yomiuri Shimbun, Rabu (19/11), Kemlu Jepang mengungkap Kanai kembali menegaskan posisi Jepang tidak pernah berubah dari Komunike Bersama Jepang-China 1972 yang mengakui China sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, dan bahwa pernyataan Takaichi tidak mengubah pendirian Jepang yang sudah lama berlaku.

Namun, Liu menekankan bahwa pernyataan Takaichi bertentangan dengan prinsip Satu China dan menyebabkan kerusakan fundamental terhadap fondasi politik hubungan China-Jepang. Liu kemudian meminta Takaichi menarik pernyataannya dan mendesak Jepang mengambil langkah-langkah untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan.

Lebih lanjut, Kanai membantah dasar peringatan perjalanan yang dikeluarkan China. Kanai menyatakan situasi keamanan publik Jepang tidak memburuk.

Kanai juga mengajukan protes baru kepada China atas unggahan media sosial Konsulat Jenderal China di Osaka Xue Jian yang mengancam akan memotong leher Takaichi. Kanai mendesak agar China mengambil langkah-langkah terukur.

Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kemlu China Mao Ning menyalahkan Takaichi atas memburuknya hubungan bilateral kedua negara. Ia mengatakan, akar masalah dari situasi yang terjadi saat ini ada pada pernyataan Takaichi yang terang-terangan dan keliru mengenai Taiwan, yang dinilai sangat mencampuri urusan dalam negeri China.

"Kekejian ini, baik dalam sifat maupun dampaknya, telah memicu kemarahan dan kecaman dari rakyat China," kata Mao, sebagaimana diberitakan The Mainichi.

Usai pertemuan Kanai dan Liu, Wakil Menlu Jepang Takehiro Funakoshi diperkirakan akan bertemu dengan Duta Besar China untuk Jepang Wu Jianghao dalam waktu dekat.