Hukuman Fisik Saat Pendidikan Pecinta Alam Tak Harus Berakhir Cedera

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta meregang nyawa saat melakukan pelatihan dasar pecinta alam. Dari pengakuan korban sebelum meninggal dunia, mereka mendapat hukuman fisik yang menguras tenaga hingga mengakibatkan cedera serius.
Alisar Tora dari Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung mengatakan untuk memberikan efek jera kepada peserta pelatihan tak melulu dengan hukuman. Apabila mereka terpaksa memberi hukuman fisik, organisasi pecinta alam yang telah berdiri sejak tahun 1964 ini mencari tempat yang benar-benar aman.
"Ada level-levelnya pembinaan fisik, seperti push up, skot jam, paling tinggi itu roll. Dan di-roll pun sebagai gambaran, itu area yang digunakan bukan sembarangan, jadi harus steril, tidak di mana saja, jadi betul-betul save. Cara roll pun kami ajarkan teknisnya sehingga mereka tidak cedera," ujarnya saat berbincang dengan kumparan, Kamis (16/1).

Meski dipastikan sehat, kondisi kesehatan peserta pelatihan pun bisa saja drop karena beratnya latihan. Untuk mengantisipasi hal itu, Wanadri menyediakan tim medis selama 24 jam. Mereka selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang terjadi selama pelatihan.
"Di Wanadri, posisi siswa ini kami anggap orang-orang istimewa. Kenapa? bayangkan, masuk Wanadri enggak ada apa-apa yang dikejar, tida digaji, tapi dengan motivasi tinggi, mereka sangat kami hormati, diistimewakan. Makanya di Wanadri siswa itu kami panggil tuan, bukan siswa," jelas Alisar.
Panitia latihan pun tak bisa bersikap sembarangan. Ada tim yang mengawasi tingkah laku panitia dan pelatih. "Tim tata-tertib itu selain mengawasi siswa mereka juga mengawasi pelatih. Dia akan mengkroscek pelatih sesuai aturan main yang sudah disepakati, dan dia bisa mengeluarkan pelatih apabila melanggar," kata Alisar.
