Huru-hara di Burkina Faso: Kantor Partai Penguasa Dijarah; Presiden Disekap
·waktu baca 6 menit

Situasi di Burkina Faso membara pada Minggu (23/1/2022). Pemberontakan tentara jadi penyebabnya.
Demonstran yang mendukung pemberontakan tentara bahkan membakar kantor pusat Partai Gerakan Rakyat untuk Kemajuan (MPP). Partai itu merupakan penguasa di Burkina Faso saat ini.
Laporan jurnalis AFP, lantai dasar kantor pusat MPP di ibu kota Ouagadougou hangus terbakar. Massa yang mengamuk turut melakukan vandalisme.
Untuk membubarkan massa, polisi sampai menembakkan gas air mata.
Tentara yang Memberontak Sekap Presiden Burkina Faso di Kamp Militer
Tentara yang memberontak dilaporkan menyekap Presiden Burkina Faso Roch Kabore di salah satu kamp militer.
Laporan tersebut diungkap dua sumber keamanan Burkina Faso dan seorang diplomat negara Afrika Barat kepada Reuters Senin (24/1/2022), waktu setempat. Penyekapan Kabore terjadi usai suara tembakan terdengar di sekitar Istana Kepresidenan.
Menurut laporan saksi mata yang tinggal di sekitar tempat tinggal Presiden di ibu kota Ouagadougou, sepanjang malam kemarin terjadi baku tembak.
Salah satu kendaraan lapis baja yang diparkir dekat tempat tinggal Presiden bahkan terlihat berlumuran darah. Di beberapa bagian kendaraan terdapat bekas tembakan.
Penjelasan Mengapa Tentara Burkina Faso Memberontak dan Sekap Presiden
Mata dunia kini tertuju ke salah satu negara termiskin di dunia, Burkina Faso. Sejak akhir pekan lalu, Burkina Faso bergejolak.
Pemicu terjadinya gejolak di negara di Afrika Barat itu adalah pemberontak tentara Burkina Faso. Kini, mereka tidak lagi menjalankan tugas utamanya menjaga kedaulatan negara. Simbol Burkina Faso, Presiden Roch Kabore, mereka tahan di sebuah kamp militer.
Sebelum penangkapan, tentara Burkina Faso diduga terlibat baku tembak di dekat kediaman Kabore. Mereka juga diduga kuat memprovokasi warga membakar kantor partai penguasa Burkina Faso yang dipimpin Kabore.
Rentetan peristiwa tersebut menunjukkan kemarahan tentara Burkina Faso yang seakan tidak bisa dibendung lagi.
Pertanyaannya, mengapa tentara begitu marah?
Seorang juru bicara pembelot militer, beberapa saat sebelum penangkapan Presiden mengungkapkan ketidakpuasan mereka atas pemerintahan Kabore serta cara eksekutif memperlakukan militer.
Kepada jurnalis di Burkina Faso, militer menyatakan mereka menuntut pemerintah memberikan sumber daya, berupa senjata dan lainnya, dan pelatihan tepat demi mengalahkan Al-Qaeda dan ISIS. Dua kelompok teroris ini beroperasi di Afrika bagian barat dan menjadi ancaman serius terhadap keamanan bangsa dan negara.
Reuters dalam laporannya menulis, kemarahan militer terkait dengan peristiwa pada 27 November 2021 lalu. Saat itu, militer Burkina Faso berhadapan melawan kelompok bersenjata afiliasi Al-Qaeda.
Tak disangka, militer Burkina Faso kalah. Lebih menyedihkan lagi 49 anggota militer beserta 4 warga sipil tewas pada pertempuran di dekat tambang emas di Inata.
Militer mengakui bukan cuma kalah senjata, tentara tidak dibekali logistik cukup untuk bertempur. Tentara Burkina Faso yang dikirim ke medan pertempuran dikabarkan tidak mendapat jatah makan selama dua minggu.
Tuntutan pemberontak militer tak hanya perbaikan kondisi dan senjata yang memadai. Mereka juga meminta Presiden mencopot kepala intelijen dan Panglima Militer. Tentara yang terluka juga diminta dirawat dengan perawatan terbaik dan kesejahteraan anggota keluarga mereka harus pula jadi prioritas.
Apa yang Terjadi di Burkina Faso Berimbas pada Wilayah
Pemberontakan militer di Burkina Faso dinilai oleh kantor berita Reuters, harus menjadi perhatian khusus bagi negara-negara lain di kawasan Afrika barat dan sekitarnya.
Sebab, pemberontakan membuktikan semakin kuat pengaruh kelompok ekstrem di bawah ISIS dan Al-Qaeda di Afrika Barat. Militan sudah menguasai beberapa area di Burkina Faso, Mali sampai Niger.
Para ahli regional Afrika juga mencemaskan, kondisi di Burkina Faso bakal menular ke negara-negara sekitar. Hal itu bisa terjadi jikalau pemerintah negara Afrika Barat lainnya tidak memperhatikan kebutuhan militernya secara saksama.
Bila kondisi Burkina Faso dibiarkan terus menerus memburuk, kestabilan Afrika Barat berpotensi ikut memburuk.
Penghasil Emas yang Miskin
Sebelum pemberontakan berujung penyekapan Presiden terjadi, kondisi Burkina Faso sudah memprihatinkan. Situasi yang terjadi berbanding terbalik dengan sumber daya alam di 'perut bumi' Burkina Faso.
Seperti sudah disinggung sebelumnya, Burkina Faso adalah salah satu penghasil emas terbesar di dunia. Tapi, emas cuma satu dari banyak kekayaan di sana. Burkina Faso juga penghasil mangan, batu kapur, marmer, fosfat, batu apung, dan garam.
Kekayaan sebanyak itu nyatanya tidak bisa dikelola Burkina Faso. Selain itu, pertambangan di Burkina Faso kini banyak yang dirampas kelompok teroris.
Akibat dari itu, Burkina Faso masuk ke dalam daftar negara miskin. Warga Burkina Faso pun banyak yang menderita kelaparan. Situasi semakin pelik akibat tanah Burkina Faso rawan kekeringan.
Tentara Burkina Faso Umumkan Penggulingan Presiden Roch Kabore
Tentara Burkina Faso mengeklaim pihaknya telah berhasil menggulingkan Presiden Roch Kabore. Mereka juga mengumumkan penangguhan konstitusi, pembubaran pemerintah dan majelis nasional, serta menutup perbatasan negara.
Pernyataan itu dibuat atas nama entitas yang sebelumnya tidak pernah terdengar yakni Gerakan Patriotik untuk Perlindungan dan Pemulihan atau MPSR yang merupakan akronim dari bahasa Prancisnya.
Pernyataan ini ditandatangani oleh Letnan Kolonel Paul-Henri Sandaogo Damiba dan dibacakan oleh petugas lain di televisi pemerintah. Mereka menyebut kudeta dilakukan tanpa kekerasan dan bahwa orang-orang yang ditahan berada di lokasi yang aman.
"MPSR, yang mencakup semua bagian tentara, telah memutuskan untuk mengakhiri jabatan Presiden Kabore hari ini," berikut pengumuman MPSR dikutip dari Reuters, Senin (24/1).
Hingga kini, keberadaan Kabore masih belum diketahui. Ada berbagai laporan simpang siur soal kondisinya saat ini.
Pengumuman tersebut menandakan situasi keamanan yang memburuk di Burkina Faso. Itu pun disebut mengungkap ketidakmampuan Kabore dalam menyatukan negara Afrika Barat dan menanggapi tantangan secara efektif, termasuk pemberontakan Islam.
MPSR berjanji akan menyusun jadwal untuk kembali ke tatanan konstitusional dalam jangka waktu yang wajar, setelah berkonsultasi dengan berbagai bagian bangsa.
Kendati di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras setiap upaya pengambilalihan pemerintah dengan kekuatan senjata di Burkina Faso.
“Ia menyerukan para pemimpin kudeta untuk meletakkan senjata mereka,” kata seorang juru bicara PBB.
Tentara pemberontak telah menggulingkan pemerintah selama 18 bulan terakhir di Mali dan Guinea. Gerakan militer sejenis juga mengambil alih Chad tahun lalu setelah Presiden Idriss Deby tewas dalam pertempuran melawan pemberontak di medan perang di utara negara itu.
Warga Burkina Faso Rayakan Kudeta
Lebih dari ribuan orang turun ke jalanan ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou, pada Selasa (26/1/2022). Mereka menyambut terguling Presiden Roch Kabore.
Kabore jatuh dari kekuasaan usai pemberontakan militer terjadi sehari sebelumnya. Kelompok pemberontak yang menamakan diri Gerakan Patriotik untuk Perlindungan dan Pemulihan (MPSR) lalu membubarkan pemerintahan dan menangguhkan konstitusi.
Saat ini keberadaan Kabore masih samar. Meski demikian, MPSR memastikan sang kepala negara terguling ditahan di lokasi yang aman.
MPSR juga membacakan surat yang dinyatakan sebagai surat pengunduran diri Kabore. Surat itu ditulis dan ditandatangani oleh Kabore.
"Demi kepentingan negara dan rentetan peristiwa beberapa hari ini. Saya putuskan mengundurkan diri dari jabatan sebagai Presiden Burkina Faso," ujar Kabore seperti dikutip dari Reuters.
Sesaat setelah pembacaan surat pengunduran diri disiarkan, warga Ouagadougou langsung berkumpul alun-alun nasional. Mereka memainkan musik, menari sambil meniup terompet.
Aksi tersebut merupakan perayaan atas tergulingnya Kabore. Salah seorang warga yang ikut berpesta menyatakan dukungan terhadap militer yang menggulingkan sang Presiden.
"Ini yang kami mau," kata seorang warga di Ouagadougou.
Seorang warga lain yang mengaku bernama Armel Kabore pun mengungkapkan perasaan serupa. Dia berharap peristiwa tergulingnya Kabore bisa membawa Burkina Faso ke arah lebih baik.
