IAEA Keluarkan Resolusi Desak Rusia Tinggalkan PLTN Zaporizhzhia di Ukraina

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia selama konflik Ukraina-Rusia di luar kota Enerhodar yang dikuasai Rusia di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, 22 Agustus 2022. Foto: Alexander Ermochenko/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia selama konflik Ukraina-Rusia di luar kota Enerhodar yang dikuasai Rusia di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, 22 Agustus 2022. Foto: Alexander Ermochenko/REUTERS

Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) meloloskan resolusi yang meminta Rusia untuk mengakhiri pendudukan atas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina pada Kamis (15/9).

Badan PBB itu mengeluarkan resolusi keduanya seputar invasi Rusia ke Ukraina. Sebagaimana yang pertama, resolusi kedua diusulkan oleh Kanada dan Polandia atas nama Ukraina. Sebab, Ukraina bukan bagian dari dewan beranggotakan 35 negara tersebut.

"[Dewan menyerukan agar Rusia] segera menghentikan semua tindakan terhadap, dan di, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia dan fasilitas nuklir lainnya di Ukraina," bunyi teks resolusi itu, dikutip dari Reuters, Jumat (16/9).

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan General Conference ke-65 Badan Energi Atom Dunia (International Atomic Energy Agency/IAEA) secara virtual, Senin (20/9). Foto: Kemlu RI

IAEA mengesahkan teks tersebut dengan 26 suara pendukung. Sementara itu, dua anggota menentang resolusi itu, yakni China dan Rusia. Tujuh negara lainnya—Burundi, Mesir, India, Pakistan, Senegal, Afrika Selatan, dan Vietnam—memilih untuk abstain.

Dilansir AFP, Menteri Energi Ukraina, German Galushchenko, menyambut keputusan IAEA. Dia kemudian meminta negara-negara yang abstain untuk mempertimbangkan kembali pendekatan mereka.

"[Dewan] menyesalkan tindakan kekerasan terus-menerus Federasi Rusia terhadap fasilitas nuklir di Ukraina, termasuk merebut kendali fasilitas nuklir secara paksa," tulis dokumen tersebut.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, yang terletak di daerah Enerhodar yang dikuasai Rusia, dilihat dari Nikopol. Foto: Ed Jones/AFP

Walaupun masih dioperasikan oleh teknisi Ukraina, situs nuklir tersebut telah dikuasai oleh Rusia sejak Maret. Memasuki bulan keenam invasi, PLTN Zaporizhzhia menjadi pusat gempuran.

Kedua belah pihak saling menuduh satu sama lain menembaki PLTN Zaporizhzhia. Rusia mengulangi tudingan itu setelah pengesahan resolusi IAEA. Pihaknya menggarisbawahi, resolusi tersebut tidak menyinggung 'penembakan sistematis' terhadap pabrik itu.

"Alasannya sederhana—penembakan ini dilakukan oleh Ukraina, yang didukung dan dilindungi oleh negara-negara Barat dengan segala cara yang memungkinkan," jelas pernyataan delegasi Rusia di IAEA.

Rekaman kamera pengintai menunjukkan pendaratan suar di pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia selama penembakan di Enerhodar, Zaporizhia Oblast, Ukraina, Jumat (4/3/2022). Foto: Zaporizhzhya NPP via YouTube/via REUTERS

Resolusi tersebut mengatakan, pendudukan Rusia memicu risiko kecelakaan nuklir dari PLTN Zaporizhzhia. Sebab, staf pabrik mengoperasikannya dalam kondisi membahayakan.

"Rusia memperlakukan infrastruktur sipil Ukraina sebagai pencapaian militer, berusaha mencabut kendali Ukraina atas sumber daya energinya sendiri dan menggunakan pembangkit itu sebagai pangkalan untuk tindakan militer terhadap Ukraina," tulis pernyataan AS kepada dewan IAEA.