Ibu Hamil di Tapsel Ditandu Pakai Bambu Selama 6 Jam ke RS, Bayi Meninggal
ยทwaktu baca 3 menit

Seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terpaksa ditandu warga ke rumah sakit menggunakan bambu.
Tuti ditandu warga selama 6 jam perjalanan menuju rumah sakit dengan jarak sekitar 30 kilometer.
Samsul Bahri Sihombing, seorang mantarai (sebutan dokter kampung di Tapanuli Selatan), menjelaskan bahwa Tuti ditandu warga pada Sabtu, 9 Mei 2026. Awalnya ia dihubungi keluarga Tuti untuk memeriksa kondisi bayi di dalam kandungannya.
Namun, setelah Samsul memeriksa, bayi dalam kandungan Tuti diketahui telah meninggal dunia. Kemudian, ia merekomendasikan agar Tuti dibawa ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lanjut.
"Ternyata saya sampai di Dusun Aek Nabara, saya cek bayinya di dalam kandungan ibu itu sudah meninggal, menurut pengamatan saya. Makanya saya anjurkan dibawa ke rumah sakit. Makanya dibawa, digotonglah, ditandu rame-rame sekitar perjalanan 6 jam menempuh 30 kilometer biar sampai ke Kecamatan Sipirok," kata Samsul saat dihubungi wartawan, Senin (11/5).
Akses jalan tanah yang belum diaspal membuat Tuti terpaksa ditandu warga menggunakan bambu dan rotan.
Samsul menyebut sebanyak 20 warga membantu ibu tersebut secara bergantian karena akses jalan sempit dan masih berupa tanah.
"Roda dua saja pun jarang yang bisa lewat. Kalau pun bisa, dipaksakan warga. Jangankan pengaspalan, alat berat aja pun belum pernah masuk ke sana," ujar Samsul.
Sesampainya di rumah sakit, operasi pun dilakukan pada Minggu, 10 Mei 2026. Tuti berhasil diselamatkan, namun bayinya telah meninggal dunia.
"Operasinya berjalan, ternyata ibu itu sehat. Bayinya sudah meninggal dunia," imbuh Samsul.
Tak Ada Bidan
Samsul menyebut di kampung tersebut tidak ada bidan yang bertahan karena jalan yang tidak memadai. Sehingga, hanya Samsul yang melakukan pengobatan terhadap warga yang mengalami masalah kesehatan.
"Penerangan enggak ada. Bidan pun sudah pernah ditugaskan di sana enggak tahan orang itu. Langsung ngurus surat pindah," ucap Samsul.
Kejadian ini bukan pertama kali terjadi di kampung tersebut. Samsul mengatakan beberapa warga sebelumnya juga menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama 7 jam. Hal itu dilakukan karena akses jalan masih sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Samsul berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap desanya yang belum mendapatkan akses jalan dan penerangan listrik.
Ia pun terpaksa berjalan kaki untuk mengobati masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan. Ia juga berharap diberikan izin oleh pemerintah untuk mengobati masyarakat sekitar.
"Kita belajar waktu dulu sama almarhum orang tua dengan menyuntik kalau ada orang yang luka. Mengobati orang di kampung-kampung. Saya berharap kepada pemerintah daerah atau pusat, kalau bisa saya dikasih izin. Saya bukan mengharapkan gaji pemerintah, saya hanya membantu kemanusiaan itu aja," pungkas Samsul.
