Ibu WNI yang Diduga Terlibat Riset Palsu di Denmark: Saya Syok, Kaget
ยทwaktu baca 2 menit

Elfiany Syafruddin, ibu dari Rifaldy Fajar, angkat bicara soal dugaan anaknya terlibat dalam pemalsuan riset untuk mengikuti konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark. Rifaldy diketahui tercatat sebagai warga Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Elfiany mengaku kaget mengetahui anaknya dikait-kaitkan dengan pemalsuan riset di Denmark. Ia pun mengetahui informasi tersebut dari pemberitaan.
"Kami dari pihak keluarga pasti syok, kaget," kata Elfiany kepada wartawan saat ditemui di Bulukumba, Sabtu (30/5).
Ia mengatakan, setelah menamatkan diri di SMA, Rifaldy langsung melanjutkan kuliah S1 di UNY, Yogyakarta. Kemudian, untuk S2 dan S3, Rifaldy melanjutkan kuliah di Eropa dengan beasiswa.
Selama ini, lanjut Efiany, anaknya memang aktif melakukan penelitian. Bahkan, kerap berpindah-pindah negara. Tercatat, sudah puluhan negara Rifaldy kunjungi atau datangi.
"Karena yang memang kami tahu itu, (Rifaldy) peneliti konferensi. Tapi baru ada, setelah tahu ini kalau ada yang penelitian palsu. Kaget pasti, terpukul, syok kaget," ucapnya.
Ia pun tak menyangka Rifaldy terlibat penelitian palsu. Elfiany mengaku sampai sejauh ini belum mempercayai informasi yang beredar.
"Kalau dalam hal riset ini saya tidak mengetahui apa pun. Yang saya tahunya anak saya, peneliti konferensi," tegasnya.
Dugaan pemalsuan abstrak ilmiah dalam International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 pertama kali diungkap akun Instagram Wa Ode Dwi Daningrat.
Kecurigaan Dwi muncul karena periset itu menyodorkan 19 abstrak dalam acara tersebut. Jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat.
Dwi juga meyakini abstrak tersebut tak akurat dan mengandung fabrikasi data, termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).
Mendiktisaintek Telusuri
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, menyatakan pihaknya tengah mendalami dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.
"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian pada Rabu (27/5).
Ia mengatakan pemerintah saat ini masih terus melakukan koordinasi untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya terkait kasus tersebut.
Ia juga menyampaikan berdasarkan informasi awal, pihak-pihak dalam kasus tersebut bukan dosen maupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.
"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," kata Brian.
