ICRP Serukan Penghentian Perang Israel-Iran, Minta Peran Aktif Indonesia
·waktu baca 3 menit

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menyerukan penghentian segera perang antara Israel dan Iran yang telah memanas sejak 13 Juni 2025. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers tokoh-tokoh agama dan kepercayaan lintas iman di Gedung Graha Oikumene, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (23/6).
Ketua I ICRP sekaligus Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, membuka konferensi dengan menekankan bahwa pertemuan ini lahir dari keprihatinan kolektif atas konflik yang membahayakan kemanusiaan.
"Ini adalah wujud dari keprihatinan dan kecemasan kami terhadap perkembangan yang berlangsung di Timur Tengah," ujar Ulil dalam konferensi pers.
Ia juga menegaskan bahwa konflik tersebut bukan perang agama dan mengimbau masyarakat untuk tidak terbawa oleh narasi yang menyimpang.
"Agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah agama yang leluhurnya sama, yaitu Ibrahim. Kita semua mencintai perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan," lanjutnya.
Dewan Kehormatan ICRP sekaligus perwakilan umat Katolik dari Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, turut menyuarakan bahwa perang tidak akan pernah menghasilkan kemenangan sejati.
"Di dalam perang tidak ada pemenang. Kalaupun merasa menang secara militer, tetap tidak ada yang menang karena ini semua adalah kekalahan terhadap kemanusiaan," tuturnya.
Oleh karenannya, Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi suara perdamaian seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945.
"Kita mempunyai kewajiban untuk menyerukan damai, merawat, dan mengembangkan perdamaian di tengah ketegangan bangsa dan negara kita," ucap Suharyo.
Pernyataan sikap resmi berjudul "Segera Hentikan Perang" dibacakan oleh Ketua II ICRP sekaligus perwakilan dari GPIB, Pendeta Sylvana Apituley. Ia menyoroti banyaknya korban sipil dan rusaknya fasilitas non-militer akibat eskalasi perang, termasuk serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Kami menyesalkan campur tangan Amerika Serikat yang melakukan pemboman tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025. Ikut campurnya pihak ini berpotensi besar memperluas cakupan perang ini," kata Sylvana.
Berikut lima poin seruan yang disampaikan ICRP:
Pemerintah Israel dan Iran untuk segera menghentikan perang.
Semua pihak di luar wilayah untuk tidak ikut campur dalam konflik yang dapat memperluas perang.
Upaya dialog dan diplomasi harus segera ditempuh, termasuk melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Presiden Prabowo Subianto diimbau untuk proaktif memainkan peran diplomasi global dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah serta wilayah konflik lainnya seperti Yaman, Sudan, dan Ukraina.
Masyarakat Indonesia lintas agama dan budaya diharapkan aktif menumbuhkan perdamaian di lingkungan masing-masing demi mendukung harmoni sosial nasional dan global.
Selain seruan, organisasi ini juga menyatakan sedang mendiskusikan rencana aksi lanjutan, termasuk inisiatif kemanusiaan untuk membantu korban perang.
Turut hadir tokoh lintas iman lainnya, yakni Pdt. Gomar Gultom (PGI), Rabbi Yaakov Baruch (Komunitas Yahudi Indonesia), Dewi Kanti (Sunda Wiwitan), dan Mirajuddin Syahid (Jemaat Ahmadiyah Indonesia).
Lembaga Sosial ICRP
ICRP didirikan pada tahun 2000 atas inisiatif tokoh-tokoh antaragama, termasuk Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid. Saat ini ICRP dipimpin oleh Abdul Mu’ti, Mendikdasmen Indonesia saat ini, yang terpilih sebagai Ketua Umum untuk periode 2023–2028.
Sebagai lembaga sosial berbadan hukum, ICRP aktif dalam mengembangkan dialog antaragama, advokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta mempromosikan perdamaian dan toleransi. Organisasi ini menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam memperkuat demokrasi, spiritualitas, dan solidaritas kemanusiaan di Indonesia.
