kumparan
22 Januari 2019 18:45

ICW Usul KPK Bentuk Unit Khusus Pendeteksi Teror

Gedung Merah Putih KPK. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)
Menyusul serangkaian teror terhadap penyidik dan pimpinan KPK beberapa waktu lalu, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo mengusulkan dibentuknya unit khusus deteksi teror di tubuh lembaga antirasuah itu. Unit ini dibentuk sebagai bentuk antisipasi apabila ada teror yang mengincar petugas KPK.
ADVERTISEMENT
"itu (usulan) sebenarnya sudah lama. Kenapa begitu? karena kami tahu, kami juga sering menghadapi teror-teror seperti itu, jadi penting untuk mendeteksi potensi teror sehingga mitigasi bisa dilakukan," kata Adnan di auditorium CSIS, Pakarti Centre, Tanah Abang, Selasa (22/1).
Adnan tak menampik saat ini pihak kepolisian sudah memberikan pengamanan yang ketat terhadap pimpinan KPK. Namun, hal itu dirasa Adnan masih kurang. Khususnya dalam upaya mendeteksi ancaman teror dari pengusutan suatu kasus korupsi.
"Tapi mereka enggak bisa mendeteksi dari kasus ini kira-kira peluang terornya apa, dari kasus ini peluang terornya di mana, apa yang harus kita lakukan sehingga sistem keamanan di KPK bisa kendor, bisa kenceng, tergantung situasinya," imbuhnya.
Adnan Topan Husodo ICW. (Foto: Aprilandika Hendra/kumparan)
Menurut Adnan, pembentukan unit khusus deteksi teror di KPK akan membantu dalam mendeteksi ancaman teror tersebut. Unit khusus ini, kata Adnan, malah dapat membantu tugas kepolisian dalam mengatasi ancaman teror kepada peyidik dan pimpinan KPK.
ADVERTISEMENT
"Nah yang membaca situasi ini kan enggak ada di KPK. Itulah tugas dari tim khusus itu. Sehingga kalau bicara soal pengobatan, dia itu pengobatan pertama pada kecelakaan, bisa juga jadi tim pemukul ketika teror terjadi, sebelum polisi datang," ungkap Adnan.
Adnan menjelaskan pimpinan KPK dapat secara cepat mengambil tindakan, apabila unit khusus deteksi teror menemukan indikasi ancaman dari pengusutan kasus korupsi.
"Memang tim ini enggak menjamin tidak akan kecolongan. Tapi sebagai sebuah unit yang dimiliki oleh KPK, pemimpin bisa mengambil keputusan cepat jika ada indikasi teror," katanya.
"Karena menurut kita, teror itu enggak sekaligus datang kok. dia pasti punya ciri-cirinya, misalnya sedang menangani kasus tertentu karena kan enggak semua kasus itu orang berani balas dendam pastinya hanya beberapa saja yang punya power, akses," pungkasnya.
Ilustrasi kasus KPK (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Teror kembali menghampiri KPK setelah penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, pada April 2017 lalu. Kediaman Ketua KPK Agus Rahardjo yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat, menjadi sasaran bom pipa berkekuatan high explosive oleh orang tak dikenal, Rabu (9/1).
ADVERTISEMENT
Polisi menemukan barang bukti berupa pipa paralon, detonator, sikring, kabel warna kuning, paku berukuran 7 centimeter, serbuk putih, baterai, dan tas hitam yang digunankan untuk menyimpan bom tersebut. Beruntung, bom tersebut belum sempat meledak. Tas berisi bom pipa itu digantung di pagar depan rumah Agus Rahardjo.
Suasana rumah Ketua KPK, Agus Rahardjo di Bekasi. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
Namun, polisi menyatakan rangkaian bom pipa di rumah Agus adalah bom palsu. Meski terdapat rangkaian berupa baterai dan kabel, namun bom palsu itu bukan berisi mesiu, melainkan serbuk semen putih.
Dalam hari yang sama, rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif yang berlokasi di Jalan Kalibata Selatan, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, juga dilempar bom molotov, sekitar pukul 01.00 WIB.
Beruntung, bom molotov ini tak melukai penghuni rumah. Saat kejadian, Laode memang sedang tidur di dalam rumah. Botol berisi spiritus dan sumbu api ini pertama kali dilihat oleh Bambang yang merupakan sopir Laode.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan