Ijtima Ulama PKB Bahas 4 Isu Strategis: Pesantren hingga Muktamar NU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PKB menggelar Ijtima Ulama Indonesia di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (23/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PKB menggelar Ijtima Ulama Indonesia di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (23/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar Ijtima’ Ulama sebagai rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB.

Forum yang dihadiri para kiai dan ulama itu membahas empat isu strategis, mulai dari persoalan kebangsaan, ekonomi, tantangan yang dihadapi pesantren, hingga pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Jombang.

Sekretaris Dewan Syura DPP PKB Saifullah Ma’shum mengatakan, pembahasan empat isu tersebut dipandang penting untuk direspons dari perspektif ulama.

“Ijtima ulama ini diselenggarakan untuk tujuan pertama akan mengangkat dan memperbincangkan empat isu atau empat topik besar yang kita pandang penting untuk kita respons dengan secara baik dan ala ulama dan ala pengasuh pesantren,” kata Saifullah di Hotel Fairmont, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (23/7).

Menurutnya, isu pertama yang dibahas berkaitan dengan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. PKB ingin para ulama memperoleh informasi yang valid di tengah derasnya arus informasi, termasuk dari media sosial.

“Pertama adalah isu-isu menyangkut soal kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita yang mungkin saja kita sudah terima melalui informasi media sosial yang mungkin saja benar atau mungkin salah. Oleh karena itu kita ingin mendapatkan informasi yang betul-betul sahih, yang valid untuk menyikapi bagaimana sesungguhnya keadaan bangsa dan negara kita dalam konteks perjuangan para ulama dan para kiai,” ujarnya.

Isu kedua menyangkut arah pembangunan ekonomi Indonesia. PKB akan mengusulkan penggunaan istilah “ekonomi konstitusi” sebagai bagian dari pengembangan konsep ekonomi yang berpihak kepada rakyat.

“Yang kedua adalah kita akan mengangkat isu menyangkut soal bagaimana perekonomian bangsa Indonesia yang selama ini kita menggunakan terminologi ekonomi pancasila atau ekonomi kerakyatan atau keumatan. Yang insyaallah pada forum ini kita akan mengusulkan sebuah term atau terminologi yaitu ekonomi konstitusi bagi bagian dari ikhtiar kita, untuk mengembangkan ekonomi kita yang betul-betul berpihak kepada kesejahteraan rakyat dan umat,” ucapnya.

Sejumlah pelajar SD melaksanakan praktek shalat dhuha pada pesantren Ramadhan di Masjid Raya Gantiang, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (16/3/2024). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO

Saifullah mengatakan, isu ketiga berfokus pada dunia pendidikan, khususnya pondok pesantren yang dinilai sedang menghadapi tantangan besar sehingga membutuhkan langkah-langkah strategis.

“Yang ketiga adalah isu atau topik menyangkut soal pendidikan, wabilkhusus pendidikan pondok-pondok pesantren, di mana pesantren yang akhir-akhir ini menghadapi tantangan yang sangat berat dan perlu kita lakukan upaya-upaya yang sangat strategis dan solutif untuk mengamankan dan menyelamatkan eksistensi pesantren di masa-masa mendatang,” katanya.

Selain itu, Ijtima Ulama juga membahas pelaksanaan Muktamar NU yang akan berlangsung bulan Agustus di Jombang. Menurut Saifullah, pembahasan tersebut dilakukan dalam kapasitas PKB yang memiliki hubungan historis dengan NU.

“Dan yang keempat, ini adalah sebuah topik yang perlu kita respons dengan cara-cara kita sesuai dengan kapasitas dan koridor PKB, di mana PKB adalah bukan partai politik. Tapi PKB adalah tidak bisa dilepaskan dari hubungan historis dengan yang namanya Nahdlatul Ulama, di mana NU akan menyelenggarakan Muktamar NU di Jombang satu bulan yang akan datang,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, PKB mengajak para kiai dan pengasuh pesantren merumuskan landasan moral dan spiritual agar Muktamar NU berjalan dengan baik serta menghasilkan kepemimpinan yang dibutuhkan organisasi.

“Karena itu kami undang, kami mohon partisipasi aktif para kiai, para bu nyai untuk merumuskan apa-apa yang mesti dijadikan landasan moral atau spiritual supaya Muktamar NU ke depan menghasilkan perubahan, menghasilkan kepemimpinan yang betul-betul dibutuhkan oleh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di masa-masa mendatang dan dihindari adanya perpecahan maupun pertikaian yang sudah berlangsung selama ini,” tutur Saifullah.

Ia menjelaskan bahwa hasil pembahasan dalam Ijtima Ulama akan dirumuskan menjadi tausiyah dan rekomendasi yang ditujukan kepada pemerintah, lembaga negara, hingga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Selanjutnya, forum juga akan membahas perkembangan siber, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi agar para ulama serta pengasuh pesantren memahami dampaknya terhadap kehidupan kebangsaan maupun dunia pesantren.

“Pada sesi kedua nanti kita akan hadirkan menyangkut soal bagaimana cyber dan AI menjadi salah satu tradisi baru bangsa Indonesia supaya para pengasuh, para ulama paham bagaimana sesungguhnya cyber dan AI dan digitalisasi berpengaruh kepada kehidupan kebangsaan kita, termasuk kehidupan pesantren-pesantren kita,” ujar Saifullah.

“Setelah itu kita baru masuk terakhir sesi perbincangan dan diskusi untuk merumuskan tausiyah kita, rekomendasi kita yang akan kita sampaikan kepada pemerintah, kepada bangsa dan negara, lembaga-lembaga negara maupun kepada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.