Ikahi: Hakim PN Medan Diteror Nomor Tak Dikenal sebelum Rumahnya Terbakar
·waktu baca 2 menit

Ketua Umum Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) Yasardin mengungkapkan bahwa hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara, Khamozaro Waruwu, sempat diteror telepon oleh nomor tak dikenal sebelum rumahnya terbakar.
Rumah Khamozaro terbakar pada Selasa siang saat Khamozaro memimpin sidang di PN dan istrinya sedang ke gereja. Ruangan rumah yang menyimpan dokumen dan pakaian Khamozaro hangus.
“Memang menurut informasi yang bersangkutan, yang bersangkutan itu sebelum terjadinya kebakaran ini sering ditelepon dan telepon itu tidak dijawab (saat diangkat). Hanya sekadar mengganggu, gitu,” kata Yasardin dalam konferensi pers di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (6/11).
Ia menyebut, panggilan misterius itu terjadi berulang kali.
“Mengganggu, ditelepon, diajak bicara enggak mau. Tapi itu sering terjadi. Sering terjadi,” kata Yasardin.
Yasardin menambahkan, teror telepon tersebut berlangsung setelah Khamozaro menangani perkara korupsi proyek jalan di Sumatera Utara yang merugikan negara ratusan miliar rupiah. Namun, ia enggan berspekulasi soal kaitannya dengan kebakaran rumah sang hakim.
“Kami tidak mau menduga-duga ya, sebelum nanti ada kepastian atau hasil pemeriksaan aparat yang berwajib,” ujarnya.
Ikahi, kata Yasardin, juga mendesak aparat kepolisian agar segera mengusut tuntas peristiwa kebakaran rumah Khamozaro dengan sungguh-sungguh.
“Atas musibah dan kejadian tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia menyatakan turut berduka yang mendalam dan berharap aparat yang berwajib untuk melakukan penyidikan penyebab kebakaran tersebut, agar dilakukan penyidikan yang sungguh-sungguh apa sebetulnya yang menyebabkan terjadinya kebakaran tersebut,” tuturnya.
Cerita Khamozaro soal Teror Telepon
Sebelum rumahnya terbakar, Khamozaro bercerita bahwa beberapa minggu sebelumnya ia kerap mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenal.
“Saya sering menerima telepon. Tapi setiap kali saya angkat, enggak mau jawab,” kata Khamozaro saat ditemui di rumah anaknya, Rabu (5/11).
Selain panggilan itu, ia juga mengaku sempat ditelepon oleh orang yang mengaku berasal dari kepolisian di beberapa wilayah.
“Saya juga pernah ditelepon oleh orang yang mengaku dari Polda Metro Jaya, Polda Riau, dan Polres Dumai. Isi pembicaraannya sama, yaitu mereka menyebut KTP saya telah disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Namun, Khamozaro tidak bisa memastikan apakah penelepon itu benar dari pihak kepolisian atau bukan. Ia mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke Polda Sumatera Utara dan masih menunggu hasil pemeriksaan.
“Itu yang saya alami. Apakah ada hubungannya dengan kejadian kebakaran ini, saya tidak tahu. Apakah ada kaitan antara telepon gelap dengan perkara, saya juga tidak tahu,” bebernya.
“Saya tidak bisa menyimpulkan. Tapi itu fenomena, sehingga baru bisa disimpulkan ketika ada hasil dari Polda Sumut,” lanjut Khamozaro.
