News
·
21 Oktober 2020 11:45

Imam Besar Al Azhar Kutuk Pemenggalan Guru yang Tunjukkan Gambar Nabi Muhammad

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Imam Besar Al Azhar Kutuk Pemenggalan Guru yang Tunjukkan Gambar Nabi Muhammad (17967)
Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed Al-Tayeb. Foto: Vincenzo PINTO / AFP
Imam Besar Al Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb mengutuk pemenggalan guru sejarah di Prancis.
ADVERTISEMENT
Meski mengutuk, Ahmed menegaskan menghina agama atas nama kebebasan berpendapat berpotensi menciptakan kebencian.
"Sebagai seorang Muslim dan Sheikh Al-Azhar, saya deklarasikan bahwa Islam, ajarannya maupun Nabinya, tidak bersalah atas tindakan terorisme kejam ini," kata Ahmed saat membacakan pidato seperti dikutip dari AFP.
Imam Besar Al Azhar Kutuk Pemenggalan Guru yang Tunjukkan Gambar Nabi Muhammad (17968)
Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed Al-Tayeb. Foto: Vincenzo PINTO / AFP
"Di waktu bersamaan, saya tekankan menghina agama dan menyerang simbol suci mereka di bawah kebebasan berekspresi adalah standar ganda dan undangan terbuka terhadap kebencian," sambung dia.
Ahmed menambahkan, aksi teror berupa pemenggalan di Paris sama sekali tidak merepresentasikan Islam.
Teroris ini tidak bicara untuk agama Nabi Muhammad, seperti halnya teroris Selandia Baru yang membunuh umat Muslim di masjid, dia tidak berbicara agama Yesus.
-Imam Besar Al Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb
Imam Besar Al Azhar Kutuk Pemenggalan Guru yang Tunjukkan Gambar Nabi Muhammad (17969)
Petugas polisi Prancis berkumpul di luar sekolah menengah setelah seorang guru sejarah yang dibunuh. Foto: AP / Michel Euler
Pidato Ahmed dibacakan di Roma dalam acara solidaritas atas terbunuhnya guru sejarah Samuel Paty. Acara tersebut dihadiri pula oleh Paus Fransiskus dan Kepala Rabi Yahudi Haim Korsia.
Seluruh pemimpin lintas agama tersebut menyerukan perdamaian.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Paty (47) terbunuh secara sadis oleh pemuda 18 tahun asal Chechnya bernama Abdullakh Anzorov. Pemuda itu ditembak mati polisi Prancis sesaat usai memenggal Paty.
Sebelum tewas, Paty sempat menunjukkan gambar Nabi Muhammad di depan murid-muridnya. Gambar ditampilkan saat Paty tengah mengajarkan materi kebebasan berpendapat.
Dari hasil pemeriksaan polisi, sebelum pemenggalan, seorang orang tua murid meluncurkan kampanye untuk menentang tindakan Paty.
Orang tua murid itu juga sempat menghubungi Anzorov beberapa saat sebelum pemenggalan dilakukan.