kumparan
14 Februari 2020 12:33

Imam Nahrawi: Siap-siap Saja yang Merasa Terima Dana KONI

PTR- Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi tiba di Pengadilan Tipikor untuk menjalani sidang dakwaan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Eks Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, didakwa menerima suap berserta gratifikasi belasan miliar rupiah. Imam didakwa menerima uang itu bersama asisten pribadinya, Miftahul Ulum.
ADVERTISEMENT
Imam dan Ulum disebut menerima suap Rp 11,5 miliar dari Sekretaris Jenderal Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI), Ending Fuad Hamidy, dan Bendahara Umum KONI, Johnny E Awuy. Suap dilancarkan untuk mempercepat pencairan dana hibah Kemenpora kepada KONI.
Mata Imam tampak berkaca-kaca usai menjalani persidangan. Imam mengklaim ada dakwaan tidak benar yang ditudingkan kepadanya.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi tiba di Pengadilan Tipikor untuk menjalani sidang dakwaan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
"Banyak narasi fiktif di sini," kata Imam di lokasi, Jumat (14/2). Ia tak menjelaskan lebih lanjut poin mana saja yang ia sebut fiktif.
Imam sempat terdiam beberapa saat ketika wartawan mewawancarainya usai persidangan. Tak berapa lama, Imam memperingatkan beberapa pihak dalam perkara suap Kemenpora ini.
"Siap-siap saja yang merasa menerima dana KONI ini, siap-siap," kata Imam.
ADVERTISEMENT
Ketika ditanya apakah tidak hanya Imam saja yang terima uang, ia tak menjawab dan hanya mengangguk.
Miftahul Ulum menjalani sidang
Asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum, bersiap menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (13/2). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
"Terima kasih support-nya, ya, semua teman-teman. Terima kasih dukungannya," tuturnya.
"Silakan diikuti terus [kasus ini]. Thank semuanya, ya. Assalamualaikum," sambung Imam.
Selain didakwa menerima suap, Imam juga didakwa menerima gratifikasi dalam kurun waktu 2016-2018 sebesar Rp Rp 8.648.432.682 miliar dari sejumlah pihak.
Yakni:
  1. Ending Fuad Hamidy selaku Sekjen KONI sebesar Rp 300 juta.
  1. Lina Nurhasanah selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (PRIMA) Kemenpora yang bersumber dari anggaran Satlak PRIMA. Sebesar Rp 4.948.435.682 sebagai uang tambahan operasional Menpora dan sejumlah Rp 2 miliar sebagai pembayaran jasa design arsitek konsultan arsitek kantor Budipradono Architecs.
ADVERTISEMENT
  1. Edward Taufan Pandjaitan alias Ucok selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Program Satlak PRIMA Kemenpora yang bersumber dari uang anggaran Satlak PRIMA sebesar Rp 1 miliar.
  1. Supriyono selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON) yang berasal dari pinjaman KONI Pusat sebesar Rp 400 juta.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan