Imbauan Kuncen tentang Status Siaga Gunung Merapi: Waspada, Jangan Sampai Lengah

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih ditemui di rumahnya di hunian tetap (huntap) Karangkendal, Cangkringan, Umbulharjo, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/11). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih ditemui di rumahnya di hunian tetap (huntap) Karangkendal, Cangkringan, Umbulharjo, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/11). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Status Gunung Merapi telah meningkat dari Waspada atau level II menjadi Siaga atau level III sejak, Kamis (4/11) lalu. Dengan kenaikan status ini, Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG pun menyatakan radius jarak bahaya dari yang sebelumnya 3 km dari puncak Merapi kini menjadi 5 km.

Lalu bagaimana pendapat juru kunci (kuncen) Merapi, Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih, terkait peningkatan status ini.

"Ya kalau Merapi ini kenaikan dari Waspada ke Siaga ya menurut saya ada suatu peningkatan yang agak cepat gitu (aktivitas Gunung Merapi)," kata Mas Asih ditemui di rumahnya di hunian tetap (huntap) Karangkendal, Cangkringan, Umbulharjo, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/11).

Terkait peningkatan ini, dia meminta masyarakat agar menjaga keselamatan. Masyarakat tidak boleh lengah untuk memperhatikan Merapi.

"Dan nanti kalau ada kegiatan di atas atau di dekat Merapi ya kita selalu hati-hati. Kita selalu waspada. Artinya tidak menurunkan status, tapi kewaspadaan masyarakat itu selalu waspada jangan sampai lengah," katanya.

Lanjutnya aktivitas masyarakat di radius 5 km dari puncak juga sudah berhenti. Contohnya aktivitas pariwisata di Bunker Kaliadem. Sejak kemarin, para pedagang telah mengemasi barang dagangannya untuk dibawa turun.

"Dulu waspada 3 km dari puncak harus kosong tetapi sekarang 5 km dari puncak harus dikosongkan tidak ada aktivitas," katanya.

Saat ditanya soal adakah tanda-tanda khusus yang dia rasakan, Mas Asih, mengaku hanya merasakan tanda-tanda alamiah biasa saja. Seperti mendengar guguran-guguran.

"Secara umum ada, sering ada guguran dan sinyal (seismik) itu selalu meningkat," katanya.

"Ya sering (dengar). Jadi guguran suaranya gluduk-gluduk mungkin ada batu-batu yang glundung. Itu suaranya itu gemluduk istilahnya. Sinyal (seismik) itu mengikuti berliuk-liuk karena getaran-getaran dari guguran tersebut," katanya.

Sementara, untuk kondisi cuaca, Mas Asih mengaku memang beberapa hari ini cuaca agak panas. Namun dia tidak tahu apakah itu berkaitan langsung dengan Merapi atau tidak.

"Hari ini pun agak panasnya agak meningkat, semlengit istilahnya gitu. Sejak kemarin panas itu agak menurut saya ada peningkatan (suhu)," katanya.

Kepada masyarakat di lereng Merapi, Mas Asih pun berpesan agar selalu mematuhi imbauan dari pemerintah dan BPPTKG.