Imun Sinovac Turun 6 Bulan, Jokowi Perlu Suntikan Ketiga Bulan Ini

28 Juli 2021 7:43 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang pria bekerja di fasilitas pengemasan pembuat vaksin Sinovac Biotech. Foto: Thomas Peter/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria bekerja di fasilitas pengemasan pembuat vaksin Sinovac Biotech. Foto: Thomas Peter/REUTERS
ADVERTISEMENT
Sejumlah penelitian terkait vaksin Sinovac akhir-akhir ini telah menunjukkan fakta terbaru. Imunogenisitas seseorang yang telah divaksinasi sebanyak dua kali dengan Sinovac akan memudar setelah 6 bulan.
ADVERTISEMENT
Indonesia merupakan salah satu negara yang menggunakan Sinovac sebagai vaksin COVID-19. Vaksin produksi China ini sendiri menurut BPOM memiliki efikasi sebesar 65 persen. Sekitar awal Januari 2021 lalu, pemerintah mulai memberikan vaksin Sinovac kepada para tenaga kesehatan yang dianggap paling berisiko tertular.
Penelitian ini sebelumnya telah disampaikan oleh Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Sinovac, Prof Kusnandi Rusmil. Dalam sebuah wawancara dengan kumparan, ia menyampaikan adanya penurunan imunogenisitas pada penerima vaksin Sinovac setelah 6 bulan. Untuk itu, Guru Besar FK Unpad ini mengatakan kemungkinan rencana pemberian dosis tambahan sebagai perlindungan tambahan.
Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
"Sinovac setelah 6 bulan itu turun, sehingga memang rencananya setelah 6 bulan harus disuntik ulang," kata Prof Kusnandi pada 16 Juli 2021.
ADVERTISEMENT
Selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan di Bandung tersebut, penelitian dari China baru-baru ini juga mengatakan hal yang sama. Hasil penelitian ini didapatkan dari pengecekan sampel darah orang dewasa sehat berusia 18-59 yang dibagi menjadi dua kelompok dengan peserta masing-masing lebih dari 50 orang. Hasilnya, tak sampai dari separuh peserta yang memiliki antibodi di atas ambang batas.
Dengan adanya hasil riset-riset ini, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memberikan dosis ketiga, termasuk kepada para pejabat negara seperti Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Presiden Joko Widodo menerima kartu vaksinasi COVID-19 usai disuntik vaksin corona di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jokowi diketahui menjadi orang pertama yang menerima vaksinasi COVID-19 menggunakan Sinovac pada 13 Januari 2021. Dosis kedua kemudian didapatkan 14 hari setelahnya yakni 27 Januari 2021. Diketahui pejabat lainnya seperti Menteri Kesehatan hingga artis Raffi Ahmad juga mendapatkan vaksin di hari yang sama dengan Jokowi.
ADVERTISEMENT
Itu berarti, Jokowi dan juga para pejabat lainnya pada Juli ini telah genap mencapai 6 bulan setelah mendapatkan vaksin kedua. Sehingga, penurunan imunogenisitas bisa terjadi.
Dosis ketiga sementara hanya untuk tenaga kesehatan
Hingga saat ini, pemerintah baru memberikan dosis vaksin tambahan kepada para tenaga kesehatan. Lonjakan kasus yang terjadi saat ini mengakibatkan meningkatnya paparan tenaga kesehatan terhadap COVID-19. Tak sedikit juga yang terinfeksi dan gugur walau telah mendapatkan vaksinasi dengan Sinovac secara lengkap.
Dengan adanya pertimbangan tersebut, maka pemerintah memberikan booster dengan vaksin Moderna yang memiliki efikasi cukup tinggi dibanding Sinovac, yaitu 94,1 persen.
Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac saat program vaksinasi massal para pemuka agama di tempat parkir Masjid Agung Istiqlal, Jakarta, Kamis (25/2). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
Sebagai lanjutan dari studi yang dilakukan di China terkait penurunan imunogenisitas, ditemukan pula adanya peningkatan antibodi pada para peserta yang diuji hingga 3 sampai 5 kali lipat setelah 4 minggu diberikan suntikan dosis ketiga.
ADVERTISEMENT
Ini merupakan pertanda yang cukup baik yang memperlihatkan efektivitas pemberian dosis ketiga. Apalagi di tengah lonjakan kasus yang tengah menerjang Indonesia saat ini.
Hanya saja, rencana ini menurut Prof Kusnandi sebaiknya dilakukan apabila mayoritas masyarakat sudah mendapatkan vaksin. Sementara kini baru sekitar 21 persen penduduk dari total target yang telah mendapatkan setidaknya vaksin dosis pertama.
Lantas, kira-kira kapan Jokowi dan Menkes dapat booster?