India Akan Salip China sebagai Negara dengan Populasi Terbanyak di Dunia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga India berbelanja di pasar yang ramai menjelang festival Diwali di New Delhi, India. Foto: Anushree Fadnavis/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga India berbelanja di pasar yang ramai menjelang festival Diwali di New Delhi, India. Foto: Anushree Fadnavis/REUTERS

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap, India akan menggantikan posisi China sebagai negara terpadat di dunia. PBB merilis laporan ini bertepatan dengan Hari Populasi Sedunia pada Senin (11/7/2022).

China memiliki salah satu tingkat kesuburan terendah di dunia, yakni 1,15 anak per wanita. Pemerintah lantas mengumumkan, populasinya akan menurun mulai tahun depan, perkiraan waktu yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Hal ini terjadi meskipun negara tersebut menghapus kebijakan satu anak pada 2016. China juga telah berupaya memperkenalkan insentif bagi pasangan agar memiliki dua anak atau lebih.

Kelahiran Bayi di China Foto: Carlos Barria/Reuters

Di sisi lain, populasi India yang terus bertambah hampir pasti akan menyalip China sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia.

Pada 2050, India diperkirakan memiliki populasi lebih dari 1,66 miliar dan China akan tertinggal jauh dengan populasi sekitar 1,31 miliar.

Pemerintah India telah menerapkan kebijakan untuk mengekang pertumbuhan penduduk dengan cepat.

Tetapi, PBB mengaitkan pertumbuhan penduduk India dengan penurunan angka kematian bayi di negara itu.

Pada 2011, India dilaporkan memiliki 1,21 miliar penduduk. Angka ini berdasarkan sensus penduduk domestik yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Pemerintah India telah menunda sensus penduduk pada 2021 karena pandemi COVID-19.

Ilustrasi lansia di panti jompo. Foto: Bernadett Szabo/REUTERS

Laporan PBB juga memperkirakan, populasi dunia akan melampaui 8 miliar pada 15 November 2022. Angka tersebut kemudian akan menyentuh 8,5 miliar pada 2030 dan 10,4 miliar pada 2080-an.

Diberitakan BBC, peningkatan ini terjadi berkat perkembangan dalam bidang kedokteran dan sains.

Artinya, akan ada lebih banyak anak-anak yang bertahan hidup sampai dewasa dan lebih banyak pula orang dewasa yang mencapai usia tua.

Pola ini kemungkinan akan berlanjut, sehingga harapan hidup rata-rata global diperkirakan akan menjadi sekitar 77,2 tahun pada 2050.

"Ini adalah kesempatan untuk merayakan keragaman kita, mengakui kemanusiaan kita bersama, dan mengagumi kemajuan dalam kesehatan yang telah memperpanjang rentang hidup dan secara dramatis mengurangi angka kematian ibu dan anak," jelas Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.

Keluarga di China Foto: Carlos Barria/Reuters

Kendati demikian, pertumbuhan penduduk tidak terjadi secepat dahulu. Bahkan, pertumbuhan populasi global turun di bawah 1 persen pada 2020 untuk pertama kalinya sejak 1950.

Berdasarkan laporan itu, populasi dunia rupanya juga berkembang secara tidak merata. Lebih dari setengah pertumbuhan populasi yang akan terjadi dalam 30 tahun ke depan hanya akan terjadi di delapan negara.

Negara-negara tersebut adalah Republik Demokratik Kongo, Mesir, Ethiopia, India, Nigeria, Pakistan, Filipina, dan Tanzania.

Sementara itu, beberapa negara dengan ekonomi paling maju di dunia sudah mengalami penurunan populasi karena tingkat kesuburan turun di bawah 2,1 anak per wanita. Populasi akan menurun setidaknya 1 persen di 61 negara pada 2050.

Penulis: Airin Sukono.