India Tangkap 81 Orang yang Simpati ke Pakistan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tentara menutup jalan setelah serangan India di Ahmedpur Sharqia, sekitar 7 kilometer dari Bahawalpur di provinsi Punjab Pakistan, Rabu (7/5/2025). Foto: SHAHID SAEED MIRZA/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Tentara menutup jalan setelah serangan India di Ahmedpur Sharqia, sekitar 7 kilometer dari Bahawalpur di provinsi Punjab Pakistan, Rabu (7/5/2025). Foto: SHAHID SAEED MIRZA/AFP

Pemerintah negara bagian Assam, India, menangkap 81 orang yang dituduh menunjukkan simpati terhadap Pakistan.

Penangkapan terjadi sebulan setelah ketegangan terbaru antara India dan Pakistan, yang disebut sebagai salah satu konflik paling serius dalam dua dekade terakhir.

Mengutip AFP, Kepala Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, menyebut para tersangka sebagai “anti-nasional”.

Ia mengatakan, aparat keamanan memantau unggahan di media sosial yang dinilai bertentangan dengan kepentingan negara.

“Sistem kami terus melacak unggahan anti-nasional di media sosial dan mengambil tindakan,” kata Sarma, anggota partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Polisi Assam mengonfirmasi salah satu orang ditangkap setelah mengunggah bendera Pakistan di akun Instagram-nya. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut mengenai penangkapan lainnya.

Ilustrasi tentara Pakistan berjaga. Foto: Banaras Khan/AFP

Pengetatan terhadap ruang digital dilakukan usai serangan terhadap sekelompok wisatawan di Kashmir yang dikelola India pada 22 April lalu. Serangan tersebut menewaskan tujuh warga sipil.

India menyalahkan Pakistan atas serangan tersebut, menuding negara tetangganya mendukung kelompok militan yang aktif di wilayah sengketa tersebut. Pakistan pun membantah.

Setelah insiden itu, ketegangan antara kedua negara meningkat dan berlangsung selama empat hari, sebelum gencatan senjata disepakati pada 10 Mei.

Ketegangan ini menjadi yang paling serius sejak bentrokan di Kargil pada 1999.

Bagian Masjid Bilal yang rusak terlihat setelah terkena serangan India di Muzaffarabad, ibu kota Kashmir yang dikelola Pakistan, Rabu (7/5/2025). Foto: AKHTAR SOMROO/REUTERS

Selain penangkapan di Assam, India juga menindak tegas dugaan spionase.

Bulan Mei lalu, badan antiterorisme menangkap seorang perwira polisi paramiliter karena diduga memberikan informasi ke Pakistan.

Sedikitnya sepuluh orang lainnya ditahan atas tuduhan serupa selama Mei 2025.

Di luar isu keamanan, Sarma juga meningkatkan pengawasan terhadap migrasi ilegal. Assam, yang berbatasan langsung dengan Bangladesh, kerap menjadi lokasi masuknya migran lintas batas.

Ilustrasi wargamelarikan diri akibat konflik Pakistan dan India di Poonch yang dikelola India, Jumat (9/5/2025). Foto: Punit Paranjpe/AFP

Media India melaporkan puluhan warga Bangladesh ditangkap dalam sebulan terakhir dan dibawa ke wilayah perbatasan untuk dideportasi.

Harian Times of India menyebut antara 27 hingga 29 Mei sebanyak 49 orang telah dipaksa kembali ke tanah tak bertuan di perbatasan. Pemerintah Assam belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini.

Sementara itu, hubungan India dan Bangladesh dikabarkan menegang setelah pergantian kekuasaan di Dhaka tahun lalu. Kini, Bangladesh disebut mulai mempererat hubungan dengan China dan Pakistan.