Indikator: Program Pengentasan Kemiskinan di Jabar Paling Banyak Dikritik Warga
·waktu baca 2 menit

Indikator Politik mengeluarkan hasil survei terbaru mengenai evaluasi publik atas kinerja 100 hari Gubernur Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten.
Hasilnya, Dedi Mulyadi menjadi gubernur yang paling banyak mendapat respons positif jika dibandingkan dengan gubernur lainnya.
Setidaknya ada empat isu pembangunan kota yang mendapat evaluasi kurang positif dari warganya, kepuasannya bahkan kurang dari 50 persen.
“Ternyata juga cukup banyak bahkan lebih banyak dibandingkan wilayah Jakarta (kepuasan di bawah 50 persen) padahal tadi kita lihat bahwa kepuasan terhadap kinerja gubernur ini mencolok Pak Dedi Mulyadi, ini tapi cukup banyak (evaluasi) ini ada empat,” kata Direktur Riset Indikator Politik Muhammad Adam Kamil di YouTube Indikator Politik, Rabu (28/5).
Empat isu pembangunan kota yang mendapat kritik keras dari warga adalah peningkatan kualitas tenaga kerja sebesar 47 persen, pembinaan koperasi di masyarakat sebesar 43 persen, kemudahan akses permodalan 43 persen, dan pengentasan kemiskinan 42 persen.
Artinya program pengentasan kemiskinan di Jawa Barat menjadi program yang paling banyak dikritik. Sebab tingkat kepuasannya menjadi yang paling rendah.
Sementara itu 2 isu utama yang mendapatkan respons sangat puas dari warga Jawa Barat adalah penyediaan layanan listrik sebesar 89 persen dan penyediaan jaringan komunikasi baik telepon maupun internet sebesar 82 persen.
Jika dibandingkan dengan Jakarta, hanya ada 1 isu yang mendapat kritik keras dari masyarakat dengan penilaian kepuasan di bawah 50 persen, yaitu pengentasan kemiskinan sebesar 47 persen.
Peneliti Utama sekaligus Pendiri Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi pun menyoroti hasil evaluasi kritis ini. Menurutnya, pemerintah Jawa Barat harus memperhatikan kritik warga sebagai acuan pembangunan kota ke depan.
“Evaluasi kritis warga penting untuk diperhatikan, karena akan menjadi awal perbaikan kinerja ke depan, sehingga kepercayaan masyarakat dapat terjaga,” kata Burhanuddin.
Adapun survei yang dilakukan adalah wawancara tatap muka yang melibatkan 500 responden yang berasal dari Jakarta. Sementara 600 responden berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebanyak 400 responden berasal dari Banten dan Yogyakarta.
Metode yang digunakan multi stage random sampling, dengan margin of error survei ini berkisar antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%.
