Indonesia Berduka, 13.500 Anak Kehilangan Orang Tuanya karena Corona
·waktu baca 2 menit

Kerugian yang diakibatkan oleh corona tak hanya melulu soal ekonomi. Selama hampir 1,5 tahun pandemi ini berlangsung, belasan ribu anak kehilangan orang tuanya yang meninggal karena terinfeksi virus ini.
Menurut Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19, dr. Alexander Kaliaga Ginting, ada sekitar 13.500 anak ayah atau ibunya meninggal dunia. Hal ini disebabkan oleh persentase kematian nasional yang terbilang tinggi yakni 3,5%.
"Dari risiko kematian kita cukup tinggi di atas 3,5%. Kemudian juga dari laporan berbagai institusi bahwa jumlah anak yang kehilangan salah satu orang tua atau ibu atau ayah itu lebih kurang 13.500," kata Alex dalam dialog virtual bertajuk 'Strategi Isolasi Terpusat Minimalisir Fatalitas Akibat Covid-19' yang disiarkan YouTube BNPB, Kamis (2/9).
Bahkan menurut Alex, tak sedikit juga di antara belasan ribu anak tersebut yang kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Ini disebabkan oleh klaster keluarga yang terbentuk akibat tak segera dilakukannya isolasi di tempat isolasi terpusat.
"Di antara mereka dan yang kehilangan keduanya, ayahnya meninggal, ibunya yang meninggal. Dan kalau kita baca laporan tersebut bahwa semua ini karena dampak klaster keluarga dan penularan ini bisa dari ibunya, bisa dari ayahnya," tambah Alex.
Untuk itu, apabila salah satu anggota keluarga sudah terdeteksi positif corona dan kondisi di rumah tidak memadai untuk isolasi mandiri (isoman), maka sebaiknya segera dirujuk ke isolasi terpusat agar klaster keluarga tidak melebar.
"Karena jika isoman apabila rumahnya tidak memadai, ini salah satu yang berpotensi naiknya klaster keluarga sehingga tak heran jika 1 wilayah kasus tinggi karena penularan dari isoman," tutup Alex.
