Indonesia Berisiko Terpapar Virus Corona, Pendeteksian Dini Harus Diperkuat

kumparanNEWSverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diskusi perspektif Indonesia bertajuk 'Adakah Jalan Keluar Bagi Jemaah Umrah', Sabtu (29/2). Foto: Paulina Herasmarinandar/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi perspektif Indonesia bertajuk 'Adakah Jalan Keluar Bagi Jemaah Umrah', Sabtu (29/2). Foto: Paulina Herasmarinandar/kumparan

Belum ada warga Indonesia di dalam negeri yang positif terkena virus corona. Padahal, Indonesia sangat berisiko besar terpapar virus tersebut.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Persatuan RS Seluruh Indonesia, Hermawan Saputra, mengatakan Indonesia memiliki 260 juta penduduk, ratusan pulau, dan minimal ada 10 bandara internasional.

Kondisi itu menimbulkan risiko bagi Indonesia terpapar virus corona. Pendeteksian dini, kata Hermawan, harus diperkuat. Namun, saat ini di bandara saja pendeteksian virus ini hanya masih sebatas menggunakan thermal scanner saja.

Sejumlah wisatawan di terminal Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Foto: Denita br Matondang/kumparan

"Di Indonesia ini mungkin kemarin ada cerita dari Australia, di bandara kita punya thermal scanner tapi model kita untuk assesment masih wawancara saja," kata Hermawan, di diskusi Polemik, di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (29/2).

Hermawan mengatakan thermal scanner hanya digunakan untuk mengukur suhu badan saja. Thermal scanner tak mampu melihat seseorang terkena virus corona. Terlebih, masa inkubasi virus ini adalah 14 hari.

"Kalau orang baru (terpapar virus) ya tentu tidak akan muncul demam dan seterusnya (sehingga tak terdeteksi). Tentu ini jadi tantangan kita sendiri," kata dia.

Petugas dengan masker berjaga di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 CGK. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Terkait belum adanya masyarakat yang dilaporkan terkena virus corona, Hermawan menyebut ada tiga teori yang bisa digunakan dalam melihat hal ini.

Pertama adalah under reported alias kasus yang tak terlaporkan. Kedua ada permasalahan dalam pendeteksiannya, dan ketiga tak cocoknya standar WHO dalam deteksi corona yang diterapkan di Indonesia.

Hermawan tak mengatakan jelas teori mana yang mungkin terjadi di Indoensia saat ini sehingga belum ada laporan masyarakat yang terkena virus corona. Namun, setiap teori bisa saja terjadi.

"Sejauh ini kita, teori tadi under reporting ini boleh jadi ini masih praduga. Orang yang sudah terinfeksi bahkan meninggal dunia karena tidak pernah diperiksa atau bahkan keluarga tak rela diautopsi atau apa sehingga terkubur dengan jasad. Boleh jadi. Artinya tak ada catatan atau record untuk hal ini," kata dia.

Petugas mengecek penumpang menggunakan Thermal Scanner di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 CGK. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Namun begitu, Hermawan meyakini sumber daya manusia dan juga fasilitas yang dimiliki Indonesia cukup mumpuni. Di Kemenkes, kata dia, ada KKP, kesehatan pelabuhan baik udara laut dan seterusnya.

"Kita luar biasa punya tenaga ini kita juga punya pusat pengendalian penyakit menular, bahkan seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota miliki juga," kata dia.

"Kita (juga) punya profesi tenaga surveillance, artinya human resource kita mestinya cukup lakukan early detection, melakukan kajian lapangan. Tapi apakah sinergitas dan leadership (sudah baik) ini jadi bahasan tantangan," pungkasnya.