Indonesia Dorong Kerja Sama Internasional Tangani COVID-19 di Forum IMT-GT

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Aspasaf Kemlu Dubes Desra Percaya (kanan) didampingi Direktur KSIA Aspasaf, Andre Omer Siregar pada Konferensi Virtual IMT-GT UNINET. Foto: Kementerian Luar Negeri RI
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Aspasaf Kemlu Dubes Desra Percaya (kanan) didampingi Direktur KSIA Aspasaf, Andre Omer Siregar pada Konferensi Virtual IMT-GT UNINET. Foto: Kementerian Luar Negeri RI

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus mendorong konsistensi solidaritas dan kemitraan internasional dalam penanganan pandemi COVID-19. Hal itu disampaikan dalam forum kerja sama sub regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), Senin (22/6).

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya, mengatakan tidak ada satu negara pun di dunia yang cukup kuat untuk menghadapi pandemi ini seorang diri. Atas dasar itu, ia menilai, kerja sama haruslah dilakukan.

"Kerja sama internasional dan regional menjadi semakin relevan dalam kondisi seperti ini. Melalui kolaborasi yang lebih kuat termasuk partnership dengan UNINET saya yakin kita akan terus maju dengan ide-ide serta solusi yang inovatif.” kata Desra dalam keterangannya saat membuka konferensi virtual IMT-GT UNINET dengan tema Strengthening IMT-GT Cooperation on COVID-19 Pandemic.

Desra mengatakan, tiga negara dalam forum ini memiliki wilayah yang berbatasan secara langsung sehingga penting untuk memperkuat kerja sama dalam penanganan COVID-19.

Selain itu, kerja sama IMT-GT selama ini terbukti telah memberikan banyak kontribusi dalam membangun perekonomian sub-kawasan termasuk peningkatan konektivitas, nilai perdagangan, pariwisata, dan investasi.

Dr Roderico Ofrin dari WHO memberikan paparan penanganan COVID-19 di Kawasan Asia; Foto: Kementerian Luar Negeri RI

Desra menjelaskan, peluang kerjasama yang dapat dilakukan adalah penelitian bersama, pelatihan entrepreneurship bagi kalangan generasi muda, pengembangan strategi dan rencana aksi manajemen limbah penanganan COVID-19, pertukaran informasi bersama, serta meningkatkan penggunaan teknologi digital guna mendukung pemulihan sektor ekonomi.

Adapun program kerja sama konkret penanganan COVID-19 dalam kerangka IMT-GT sedang dilaksanakan saat ini melalui proyek penyusunan protokol COVID-19 Medical Waste Management System bagi Pemerintah Daerah negara anggota IMT-GT.

Dalam hal ini Provinsi Bangka Belitung menjadi salah satu pilot project pengembangan protokol tersebut di Indonesia.

Desra menambahkan, sekretariat IMT-GT juga telah melakukan berbagai upaya guna memfasilitasi pembahasan penanganan COVID-19 di berbagai sektor yang menjadi prioritas IMT-GT untuk turut serta menjalankan protokol kesehatan dan mempersiapkan kesiapan daerah yang tergabung dalam jalankan new normal.

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah COVID-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Konferensi virtual tersebut diselenggarakan oleh Kemlu bekerjasama dengan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan melibatkan 25 universitas di ketiga negara.

Adapun pembicara dalam kegiatan itu adalah Dr. Roderico Ofrin dari WHO, Gary Krishnan dari Asian Development Bank (ADB), Kazunobu Onogawa dari Institute for Global Environmental Strategies Jepang, Firdaus Dahlan dari Sekretariat IMT-GT Putrajaya, Prof. Dr. Marwan dari UNINET Indonesia, Prof. Dr. Sazzli Shahlan Kasim dari UNINET Malaysia, dan Prof. Dr. Virasakdi Chongsuvivatwong dari UNINET Thailand.

Rektor Universitas Syiah Kuala, Syamsul Rizal, dalam sambutannya menyampaikan bahwa COVID-19 tidak hanya mengakibatkan kematian di berbagai negara. Namun juga mempengaruhi arus rantai pasok dan juga perekonomian.

“Pandemi ini harus kita lawan dengan bekerja sama dan saling membantu," kata dia.

kumparan post embed

Adapun pokok diskusi bersama para ahli dan akademisi dari UNINET menyimpulkan bahwa negara di dunia perlu bekerjasama dalam atasi pandemi. Ada empat hal yang bisa dilakukan yakni dalam melakukan penelusuran kontak, melakukan tes massal, melakukan isolasi mandiri, dan merawat pasien.

Para narasumber berpendapat, bila keempat hal ini dilakukan secara efektif oleh setiap negara, penyebaran virus akan dapat dihentikan dan kurva pandemi dapat 'didatarkan'. Saat pandemi dapat dilawan, maka siklus perekonomian akan kembali bergerak.

Sementara ADB memfasilitasi upaya pemulihan ekonomi di kawasan antara lain dengan menyiapkan database yang dapat diakses oleh pemangku kepentingan di kawasan dan menekankan pentingnya berbagi informasi.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.