Indonesia-Prancis Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Anti-terorisme

Pemerintah Indonesia dan Prancis sepakat untuk meningkatkan kerja sama anti-terorisme. Kesepakatan ini diperoleh dalam pertemuan bilateral antara kedua menteri luar negeri di Jakarta, Selasa (28/2).
Berbicara usai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean Marc Ayrault di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Menlu RI Retno Marsudi mengatakan situasi dunia saat ini membuat kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama bilateral dalam hal pemberantasan terorisme.
"Kita sepakat akan terus meningkatkan kerja sama bilateral untuk counter-terrorism karena semua negara mengalami ancaman yang sama," kata Retno.

Perancis dalam dua tahun terakhir telah beberapa kali menjadi sasaran serangan terorisme yang menewaskan lebih dari 200 orang. Salah satu serangan terburuk yang terjadi di Perancis sejak Perang Dunia II dilancarkan anggota ISIS pada November 2015 yang menewaskan 130 orang.
"Oleh karena itu Perancis dan Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kerja sama di bidang counter terrorism," kata Retno lagi.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam itu, kedua Menlu juga berbicara soal upaya peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara.

Prancis, kata Retno, adalah salah satu mitra penting Indonesia di Uni Eropa di bidang ekonomi. Perdagangan antara Indonesia dan Prancis telah mencapai lebih dari 2 triliun dolar AS.
"Investasi juga menunjukkan angka yang sangat signifikan dan Prancis merupakan investor kelima terbesar di antara negara-negara Uni Eropa," lanjut Retno.
Menlu Prancis dalam pertemua itu juga membahas dukungan terhadap lisensi yang telah diberikan Uni Eropa untuk produk kayu Indonesia. Kedua negara sepakat mengembangkan lisensi serupa untuk produk kelapa sawit Indonesia.

"Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia merupakan negara pertama yang mendapatkan lisensi untuk timber product untuk memasuki kawasan Eropa," tutur Retno.
Sementara itu Menlu Jean Marc Ayrault mengatakan Prancis dan Indonesia merupakan negara demokratis dengan kesamaan visi berbagai isu dan permasalahan yang terjadi.
"Kami memiliki visi yang sama terkait masalah global, konflik terorisme, dan tata kelola dunia," lanjutnya.

Tidak hanya itu, Jean juga berpendapat kedua memiliki keinginan dan ambisi yang besar dalam hal hubungan bilateral antar kedua negara. Ambisi ini diwujudkan dalam penandatanganan dua MoU yaitu di bidang pendidikan dan pelatihan diplomatik, dan di bidang keantariksaan.
"Dan ambisi tersebut harus ditunjukkan dalam tindakan yang nyata," kata Ayrault.
