Indonesia Resmi Jadi Tuan Rumah ISC ke-3, DPD RI Bakal Bawa Aspirasi Daerah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DPD DRI Sultan B Najamudin saat menghadiri ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja. Dok: DPD RI.
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DPD DRI Sultan B Najamudin saat menghadiri ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja. Dok: DPD RI.

Indonesia resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Inter-Parliamentary Speakers’ Conference (ISC) ke-3. Keputusan tersebut diambil secara aklamasi dalam pertemuan para pimpinan parlemen yang hadir pada ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja, dan kemudian diumumkan secara resmi di hadapan seluruh peserta konferensi yang merupakan pimpinan parlemen dari 31 negara.

Penetapan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3, terlebih dahulu dibahas dalam pertemuan para pimpinan parlemen negara peserta. Setelah seluruh peserta menyepakati Indonesia secara aklamasi, keputusan tersebut diumumkan secara resmi oleh Presiden Senat Kamboja sekaligus mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dalam forum ISC ke-2.

Ketua DPD RI Sultan B Najamudin menilai, ditunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3, merupakan bentuk kepercayaan dari parlemen-parlemen dunia dan juga capaian penting dalam diplomasi parlemen Indonesia. Menurutnya, penunjukan tersebut merupakan kehormatan sekaligus peluang strategis bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun dialog dan kerja sama antarparlemen dunia.

“Kepercayaan untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 tentu merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi dan kepercayaan di tengah komunitas parlemen dunia untuk ikut mengambil peran dalam memperkuat perdamaian, kepatuhan terhadap hukum internasional, kesejahteraan, dan keberlanjutan,” kata Sultan dalam keterangannya, Sabtu (29/8).

Menurut Sultan, ISC ke-3 di Indonesia nantinya tidak hanya menjadi forum diplomasi parlementer, tetapi juga ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif negara dalam mencari titik temu terhadap persoalan global yang semakin kompleks.

“Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog dan kerja sama. Parlemen memiliki peran penting untuk memastikan aspirasi masyarakat, kepentingan perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan dapat menjadi bagian dari agenda bersama. Indonesia siap menjadi rumah bagi dialog tersebut,” ujarnya.

Bagi DPD RI, lanjut Sultan, penunjukan sebagai tuan rumah juga memiliki makna tersendiri. Sebagai lembaga representasi kewilayahan, DPD RI ingin membawa perspektif daerah dan keberagaman sebagai bagian dari percakapan global. Sultan menilai tantangan dunia tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah, mulai dari perubahan iklim, ketimpangan pembangunan, hingga persoalan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.

“Indonesia adalah negara yang besar, beragam, dan memiliki pengalaman panjang dalam merawat persatuan di tengah perbedaan. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk menghadirkan forum yang membuka ruang dialog, saling memahami, dan membangun kerja sama,” katanya.

Sultan menjelaskan, ISC merupakan forum yang mempertemukan para pimpinan parlemen berbagai negara untuk membangun dialog mengenai isu-isu strategis dunia, termasuk perdamaian, kepatuhan terhadap hukum internasional, kesejahteraan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Bagi Indonesia, penyelenggaraan ISC ke-3 membuka ruang untuk memperkuat diplomasi parlemen sekaligus membawa perspektif negara kepulauan dan kepentingan daerah ke dalam percakapan global.

Menurut Sultan, Indonesia memiliki modal penting untuk menjalankan peran tersebut. Sebagai negara kepulauan dengan keberagaman wilayah, masyarakat, budaya, dan potensi sumber daya yang sangat luas, Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola perbedaan sekaligus menjaga persatuan. Pengalaman tersebut dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam memperkuat semangat dialog dan kolaborasi di tengah meningkatnya berbagai tantangan global. Ia menilai kerja sama antarparlemen semakin penting karena berbagai persoalan dunia membutuhkan dukungan kebijakan dan komitmen bersama yang melibatkan representasi masyarakat.

“Kita membutuhkan lebih banyak ruang dialog dan kerja sama. Parlemen memiliki peran penting karena membawa mandat masyarakat. Indonesia ingin mengambil bagian dalam membangun semangat kolaborasi itu dan menjadikan ISC ke-3 sebagai forum yang menghasilkan gagasan serta kerja sama yang bermanfaat,” ujarnya.

Ia mengatakan kepercayaan menjadi tuan rumah juga membuka peluang lebih luas untuk memperkenalkan potensi dan kepentingan daerah kepada komunitas internasional. Forum tersebut dapat menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengalaman, sekaligus memperluas jejaring kerja sama yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi pembangunan Indonesia hingga ke daerah.

ISC sendiri pertama kali dideklarasikan dalam penyelenggaraan ISC ke-1 di Seoul, Korea Selatan, pada 2025, yang dihadiri pimpinan parlemen dari 45 negara. Forum ini kemudian dilanjutkan melalui ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja, yang dihadiri pimpinan parlemen dari 31 negara.

Dengan ditetapkannya Indonesia secara aklamasi sebagai tuan rumah ISC ke-3, DPD RI akan mengambil peran dalam mempersiapkan forum tersebut sebagai ruang dialog para pimpinan parlemen dunia, sekaligus membawa semangat kolaborasi, perdamaian, dan kepentingan masyarakat serta daerah Indonesia ke panggung internasional.