Indonesia Urutan ke-2 Kasus Tuberkulosis di Dunia, Kemenkes Kejar Deteksi Dini

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga binaan antre untuk mengikuti pemeriksaan Tuberkulosis (TB) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II-A Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga binaan antre untuk mengikuti pemeriksaan Tuberkulosis (TB) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II-A Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Pada 7 November 2023 malam waktu Indonesia, WHO meluncurkan Global TB (Tuberkulosis) Report 2023. Ini merupakan suatu laporan tahunan yang selalu menyampaikan perkembangan kasus TB di di dunia dari masa ke masa.

"Sejak tahun yang lalu sampai sekarang Indonesia masih juga menduduki peringkat ke dua terbesar jumlah kasus TB di dunia," kata eks Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama, Kamis (9/11).

Data terbaru di Global TB report 2023 ini menunjukkan urutan persentase jumlah kasus di dunia. Berikut urutannya:

  • India (27%)

  • Indonesia (10%)

  • Tiongkok (7.1%)

  • Filipina (7.0%)

  • Pakistan (5.7%)

  • Nigeria (4.5%)

  • Bangladesh (3.6%)

  • Republik Demokratik Kongo (3.0%).

Berikut 5 laporan dari WHO yang dirangkum Prof Tjandra:

Pertama, insiden TB secara global masih terus meningkat. Tadinya insiden TB dunia adalah 10 juta orang di tahun 2020, naik menjadi 10,3 juta di tahun 2021 dan naik lagi menjadi 10,6 juta di tahun 2022.

Kedua, untuk kenaikan insiden dunia ini maka Indonesia memang punya peran pula. Negara kita adalah satu dari delapan negara dunia yang menyumbangkan 68% kasus TB di dunia. Juga, Indonesia adalah satu dari 10 negara yang menyumbang 71% gap/kesenjangan antara insiden dan kasus TB yang dilaporkan.

Ketiga, kematian akibat TB di dunia memang menurun, tetapi penurunan ini belum sesuai target global. Targetnya adalah turun 75% antara data kematian 2015 dengan data 2022, tetapi kenyataannya penurunan antara 2015 – 2019 adalah 19% dan antara 2010 – 2019 adalah 33%.

Keempat, disampaikan bahwa ada 83 negara di dunia yang insiden TB nya turun lebih atau sama dengan 20%. Dengan kata lain, ada lebih dari 100 negara yang angkanya tidak turun, dan untuk Indonesia bahkan dikelompokkan dalam negara yang angka insidennya naik.

Kelima, pada angka 2022 dibandingkan dengan 2015 maka ada 47 negara yang angka kematian TB nya turun lebih atau sama dengan 20%. Artinya, ada sekitar 150 negara yang angka kematian TB nya tidak turun, dan untuk Indonesia kembali dikelompokkan dalam negara yang angka kematian TB nya naik.

Upaya Kemenkes

Wakil Menteri Kesehatan dr. Dante Saksono Harbuwono memberikan sambutan di Pembukaan Cathlab dengan Tindakan PCI Perdana RSUP Dr. Johannes Leimena Ambon secara daring, Jumat (2/12). Foto: Ainun Nabila/kumparan

Kementerian Kesehatan bersama Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) meluncurkan program Bersama Menuju Eliminasi dan Bebas dari TB (USAID BEBAS TB), Rabu (1/11) di kota Medan, Sumatera Utara.

“Ini adalah bentuk pertemanan sejati antara Pemerintah Indonesia dengan USAID yang telah terjalin sejak 53 tahun lalu dan berdampak positif bagi kesehatan jutaan masyarakat Indonesia”ujar Wamenkes Dante Saksono Harbuwono dalam keterangannya.

Menurut Wamenkes, _sejauh ini buah kerja keras dari upaya yang telah dilakukan adalah keberhasilan mencapai penemuan kasus baru tertingginya dengan angka penemuan kasus mencapai 724 ribu kasus di tahun 2022.

Hal tersebut juga telah dipersiapkan sejak jauh hari agar dapat mengejar target eliminasi Tuberkulosis di tahun 2030 dan Provinsi Sumatera Utara berkomitmen untuk dapat eliminiasi pada tahun 2028.

Untuk mengejar target tersebut, perlu adanya percepatan yang harus dilakukan secara masif antara lain, mencapai 90% penemuan kasus baru, mengejar 100% pengobatan dari kasus baru untuk bisa berhasil melakukan 90% pengobatan sampai tuntas, serta mencapai 58% orang dengan kontak erat tuberkulosis untuk mendapatkan terapi pencegahan TB (TPT).

Tidak hanya itu, Wamenkes berharap Indonesia dapat menekan insiden kasus dari 354 / 100.000 orang menjadi 65 / 100.000 orang pada tahun 2030, dan demikian tercapailah eliminasi kasus TB di Indonesia.

“Hal tersebut tidak bisa berjalan sendiri, Kemenkes berupaya untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk peduli terhadap tuberkulosis, salah satunya dengan dukungan dari organisasi internasional” ungkap Wamenkes.