Ingat, Kasus Corona Melandai tapi Protokol Kesehatan Penting untuk Investasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi orang yang berpergian menggunakan masker. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi orang yang berpergian menggunakan masker. Foto: Shutterstock

Perubahan perilaku masyarakat untuk taat protokol kesehatan saat ini masih tetap dipertahankan walau kasus corona sudah menurun. Sebab, ia merupakan hal baik untuk masa depan.

Menurut Ketua Laboratorium Intervensi Sosial dan Krisis Fakultas Psikologi UI, Dicky Pelupessy, kondisi yang terjadi saat gelombang kedua kasus COVID-19 beberapa waktu belakang ini harus jadi pelajaran.

Salah satunya terkait pengendalian mobilitas masyarakat yang sangat mempengaruhi peningkatan kasus.

"Kita bisa belajar dari yang terjadi 3-4 bulan lalu. Kita sama-sama melihat ada pergerakan mobilitas masif tapi kemudian kita belajar ketika ada upaya menekan mobilitas dan masyarakat takut, kita cemas, dan mau mematuhi aturan tersebut kasus menurun," kata Dicky dalam dialog virtual yang ditayangkan di YouTube BNPB, Selasa (28/9).

"Jadi bagaimana kita belajar dari peristiwa yang memberikan pembelajaran berharga. Setelah kita mengubah perilaku kita termasuk juga kebijakan kita bisa menekan angka kasus," lanjutnya.

embed from external kumparan

Menaati protokol kesehatan bagi sebagian orang mungkin menjadi sebuah hal yang menyulitkan dan terasa berat untuk dijalankan setiap hari. Apalagi pandemi masih akan terus berlangsung hingga waktu yang belum diketahui.

Oleh karena itu, ia menilai masyarakat harus menganggap kegiatan patuh protokol kesehatan sebagai bagian dari investasi yang manfaatnya akan dirasakan kelak.

"Dan kedua menurut saya harus menanamkan dalam pikiran kita. Ya kita akan merasa tidak nyaman ketika memakai masker, kesal aktivitas dibatasi, kita harus memikirkan jaga jarak, kita harus lihat itu sebagai investasi. Dan kita berpikir lebih baik kita mengalami ketidaknyamanan tetapi menghindari sesuatu yang lebih buruk," katanya.

Sehingga dengan menanamkan pemikiran tersebut, diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mudah dalam menerapkan protokol kesehatan. Sebab, tak hanya diri sendiri yang akan mendapatkan manfaatnya, namun seluruh orang yang ada di sekitar.

"Ini seperti cost and benefit analysis. Jadi kita menimbang-nimbang apa yang harus saya korbankan tapi apa yang bisa saya dapatkan. Tapi bukan bicara apa yang terjadi pada saya semata, tapi kemudian pada orang-orang sekeliling saya. Kalau saya patuh, tapi imbalannya saya bisa jaga keluarga saya. Ini yang harus kita pikirkan," jelasnya.

"Kita belajar dari sejarah yang belum lama dan berpikir manfaat yang aka kita peroleh daripada harga yang harus kita terima kalau kita terinfeksi," pungkas Dicky.