Ingin AS Pimpin Dunia Lawan Hamas & Rusia, Biden Ajukan Anggaran USD 100 Miliar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

Presiden AS Joe Biden berbicara selama upacara penandatanganan Undang-Undang Penghormatan Pernikahan pada Hukum Selatan Gedung Putih di Washington, DC pada 13 Desember 2022. Foto: Brendan Smialowski / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Joe Biden berbicara selama upacara penandatanganan Undang-Undang Penghormatan Pernikahan pada Hukum Selatan Gedung Putih di Washington, DC pada 13 Desember 2022. Foto: Brendan Smialowski / AFP

Presiden Joe Biden menyerukan Amerika Serikat untuk memegang tonggak pemegang kepemimpinan global dengan cara berada di pihak Israel dan Ukraina.

Sebab, kata Biden, mengalahkan pihak-pihak yang tak berpandangan sama dengan AS soal demokrasi — seperti Hamas dan Presiden Rusia Vladimir Putin, adalah salah satu kepentingan nasional AS yang dapat memberikan manfaat jangka panjang di masa depan.

Dikutip dari AFP, ketika berpidato dari Oval Office di Gedung Putih pada Kamis (19/10) Biden menyerukan kepada seluruh masyarakat AS untuk tidak membiarkan 'teroris' seperti Hamas dan Putin menang.

Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato di Royal Warsaw Castle Gardens di Warsawa, Polandia pada Selasa (21/2/2023). Foto: Wojtek Radwanski/AFP

"Hamas dan Presiden Rusia Vladimir Putin mewakili ancaman yang berbeda, tetapi mereka memiliki kesamaan: Mereka berdua ingin menghancurkan negara demokrasi tetangga," kata Biden.

Sebelumnya, Biden sempat berpendapat bahwa Hamas telah berusaha menghancurkan demokrasi di Israel melalui pergolakan bersejarahnya pada 7 Oktober lalu.

"Kita tidak bisa dan tidak akan membiarkan teroris seperti Hamas dan tiran seperti Putin menang. Saya menolak untuk membiarkan hal itu terjadi," tegas Biden.

Sehubungan dengan itulah, Biden kemudian menyerukan leadership dari AS untuk menjadi pemimpin global dalam mencegah 'penistaan' demokrasi di negara-negara yang berperan dalam kepentingan AS.

"Kepemimpinan Amerika adalah apa yang menyatukan dunia," tegas pemimpin dari Partai Demokrat itu.

USD 100 Miliar untuk Kepentingan AS

Masih mengenai partisipasi AS dalam menegakkan 'demokrasi', Biden kemudian mengumumkan dirinya pada Jumat (20/10) bakal meminta Kongres untuk menyetujui dana tambahan kepada Israel dan Ukraina.

Alasannya, menurut Biden, dana tambahan yang dipergunakan untuk senjata itu adalah investigasi bagi masa depan AS di panggung dunia selama beberapa dekade mendatang.

"Ini adalah investasi cerdas yang akan memberikan keuntungan bagi keamanan Amerika selama beberapa generasi," terang Biden.

New York Times melaporkan, Gedung Putih akan mengajukan permintaan dana dalam jumlah fantastis kepada Kongres sehubungan dengan ambisi AS untuk menjadi 'pemimpin' di panggung dunia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan pidato pada pertemuan bersama Kongres AS di House Chamber of U.S. Capitol di Washington, AS, Rabu (21/12/2022). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

Adapun yang pertama — dan terbesar adalah untuk Ukraina senilai USD 60 miliar (Rp 951 triliun) dan USD 14 miliar (Rp 222 triliun) untuk Israel. Lalu, bantuan keamanan senilai USD 7 miliar (Rp 111 triliun) untuk Taiwan dan wilayah Indo-Pasifik dalam menghalau ancaman dari negara saingan AS, China.

Tak berhenti di situ, Biden juga bakal mengajukan USD 14 miliar (Rp 222 triliun) untuk keamanan di perbatasan selatan AS dan Meksiko, dan terakhir USD 10 miliar (Rp 158 triliun) dalam bentuk bantuan kemanusiaan bagi negara-negara di wilayah berkonflik.

Secara keseluruhan, Biden bakal mengajukan dana tambahan senilai lebih dari USD 100 miliar sebagai 'investasi' masa depan as.

Pidato Biden yang bernada keras merupakan seruan kepada warga AS untuk mengatasi perpecahan politik internal dan bersatu suara dalam menyikapi dua konflik berbeda — yang menurut dia adalah ancaman serius bagi keamanan nasional AS.

"Kita tidak bisa membiarkan politik kemarahan partisan yang picik menghalangi tanggung jawab kita sebagai bangsa yang besar," ungkap pria berusia 80 tahun ini.

Amerika adalah mercusuar bagi dunia. Tetap. Masih," tegas Biden.