Ingin Cepat Malah Sakit Tak Tertahan: Cerita Warga Beli Tambal Gigi Via Online

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Drg. Aprillya Sakila menjelaskan soal apa yang terjadi pada gigi jika ditambal menggunakan tambalan sementara seperti yang sempat ramai di Threads, di Tangerang, Selasa (1/9/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Drg. Aprillya Sakila menjelaskan soal apa yang terjadi pada gigi jika ditambal menggunakan tambalan sementara seperti yang sempat ramai di Threads, di Tangerang, Selasa (1/9/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Ramai di medsos seorang dokter gigi, Aprillya Sakila, mengungkap kasus pasien yang mengalami infeksi setelah menggunakan bahan tambal gigi yang dibeli secara online dan dipasang sendiri di rumah. Kisah tersebut menjadi sorotan setelah ramai dibicarakan di media sosial, Threads.

Salah satu warga yang ikut berkomentar di unggahan Sakila turut membagikan pengalamannya menggunakan bahan tambal gigi serupa.

Kepada kumparan, warga bernama Nafilatul itu bercerita keputusannya menggunakan tambalan tersebut berawal dari trauma untuk pergi ke dokter gigi.

Nafilatul mengatakan trauma tersebut membuatnya mencari alternatif untuk mengatasi gigi berlubang yang semakin besar. Ia kemudian menemukan produk tambal gigi melalui mesin pencarian dan sebuah platform e-commerce.

“Saya ada trauma untuk pergi ke dokter gigi. Akhirnya saya mencari alternatif lain bagaimana menutup lubang di gigi saya karena semakin besar, semakin besar,” kata Nafilatul kepada kumparan, Selasa (1/9).

Ia mengaku semakin tertarik setelah melihat produk tersebut memiliki banyak pembeli dan mendapat penilaian bagus. Ia juga menemukan informasi bahwa bahan tersebut disebut direkomendasikan oleh dokter.

“Jadi saya klik, saya lihat, saya cari-cari informasi dan katanya direkomendasikan dokter dan bintangnya bagus dan pembelinya banyak. Dan saya pun mulai tertarik,” ujarnya.

Drg. Aprillya Sakila menjelaskan soal apa yang terjadi pada gigi jika ditambal menggunakan tambalan sementara seperti yang sempat ramai di Threads, di Tangerang, Selasa (1/9/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Menurut Nafilatul, ia memilih produk tersebut karena menganggap penggunaannya lebih cepat dan murah dibandingkan pergi ke dokter gigi. Ia juga melihat produk serupa digunakan oleh orang lain di media sosial.

“Mengapa akhirnya saya memutuskan menggunakan itu karena itu efektif, lebih cepat, dan menurut saya juga aman,” katanya.

Namun, setelah digunakan, Nafilatul kesulitan melepas bahan tersebut. Beberapa waktu kemudian, ia mengalami sakit dan kaku pada bagian leher hingga kesulitan menoleh dan menelan. Akhirnya ia memutuskan untuk ke UGD.

“Semakin hari kok leher saya semakin sakit, buat pusing, berat, leher juga rasanya kaku, tidak bisa menelan. Akhirnya saya ke UGD,” tuturnya.

Di UGD, Nafilatul sempat diduga mengalami meningitis atau radang otot. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas, ia dinyatakan mengalami radang otot.

Setelah kondisinya membaik, Nafilatul mendatangi poli gigi untuk melepas bahan tersebut. Prosesnya cukup sulit karena bahan harus dibor hingga akhirnya dapat dikeluarkan dan dibersihkan.

Ia kemudian menjalani enam kali kontrol gigi hingga lubang pada giginya dapat ditangani. Pengalaman tersebut membuatnya kapok dan mulai berani memeriksakan gigi secara rutin.

“Saya sudah kapok banget sama rasa sakitnya itu rasanya kayak leher ini rasanya panas, nyeri, sampai di kepala. Makanya saya ya udahlah daripada saya kesakitan terus di rumah, berlarut-larut saya mau berobat lagi,” katanya.

Respons Dokter Sakila soal Trauma ke Dokter Gigi

Drg. Aprillya Sakila: dokter yang membagikan cerita dampak tambalan gigi sementara yang viral di Threads. Foto: Dok. Istimewa

Sakila mengatakan trauma terhadap dokter gigi memang dapat membuat seseorang enggan menjalani perawatan. Namun, ia meminta pasien tidak menyerah ketika merasa tidak cocok dengan seorang dokter.

“Memang dokter itu kan cocok-cocokan ya. Kita mencari pengobatan itu juga cocok-cocokan, entah cocok-cocokan treatment plan-nya, cocok dengan dokternya atau tidak, komunikasinya cocok atau tidak,” kata Sakila.

Menurutnya, pasien yang memiliki trauma dapat mencari dokter gigi lain yang dirasa lebih nyaman, baik dari sisi komunikasi maupun rencana perawatan.

“Jadi memang jangan begitu bertemu satu dokter gigi dan kamu enggak cocok jangan berputus asa, coba cari lagi yang sekiranya memang komunikasinya dan treatment plan-nya bisa kamu terima,” ujarnya.

Sakila pun menegaskan masalah pada rongga mulut tetap sebaiknya ditangani oleh tenaga profesional.

“Jadi tetap apa pun masalah kamu yang ada di dalam rongga mulut jangan datang ke mana-mana selain dokter gigi,” katanya.