kumparan
12 November 2019 15:09

Ingin Untung, Alasan Kontraktor SD di Pasuruan Kurangi Bahan Material

Tersangka SDN Gentong (PTR)
Tersangka insiden atap ambruk SDN Gentong, Kota Pasuruan, Sabtu (9/11). Foto: Yuana Fatwallah/kumparan
DM dan S, dua kontraktor renovasi atap SDN Gentong, Pasuruan, Jawa Timur, ternyata sengaja mengurangi bahan material pembangunan. Pengurangan jumlah dan kualitas material mereka lakukan untuk meraup untuk besar dari pekerjaan pembaruan atap sekolah itu.
ADVERTISEMENT
“Orang mengurangi volume baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu pekerjaan apalagi materialnya adalah menyisakan keuntungan margin yang lebih,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera, di Polda Jawa Timur, Selasa (12/11).
Tersangka SDN Gentong
Alat bukti tersangka insiden atap ambruk SDN Gentong, Kota Pasuruan, Sabtu (9/11). Foto: Yuana Fatwallah/kumparan
Salah satu material yang dikurangi kualitasnya oleh dua kontraktor itu adalah besinya. Besi yang digunakan saat atap sekolah itu tidak layak digunakan untuk bangunan.
“Bahan besinya seperti yang disampaikan Direskrimum adalah ‘besi banci’. Itu besi yang kelas 3 Ataupun kelas 2. Yang tidak digunakan untuk kepentingan proyek, kepentingan publik. Tetapi ini kepentingan publik dikurangi untuk besi yang namanya besi banci,” kata Barung.
Tersangka SDN Gentong
Alat bukti tersangka insiden atap ambruk SDN Gentong, Kota Pasuruan, Sabtu (9/11). Foto: Yuana Fatwallah/kumparan
Selain itu, polisi juga menemukan pembangunan kolom beton penyangga gedung sekolah seharusnya diisi 4 besi, tapi dikurangi oleh tersangka menjadi 3 besi. Sementara itu, diameter besi bangunan juga dikurangi, yakni 12 millimeter menjadi 8 milimeter.
ADVERTISEMENT
Kepada polisi dua tersangka kasus atap roboh itu tidak menyangka pengurangan jumlah dan kualitas atap SD berakibat fatal. Sejauh ini, polisi menduga, meski mereka dianggap bersalah menyebabkan orang meninggal. Namun, tidak ada niat dari kontraktor itu untuk membunuh.
Atap empat kelas di SDN Gentong roboh pada Selasa (5/11). Akibat kejadian ini seorang guru dan seorang murid meninggal dunia. Selain itu ada 11 orang lainnya luka-luka.
Polisi sudah menetapkan dua kontraktor yang mengerjakan renovasi atap sekolah itu sebagai tersangka. Namun polisi menyatakan bakal ada tersangka lain dalam kasus ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan