Ini Hal yang Kamu Perlu Tahu soal Virus Corona Varian Delta dan Gejalanya
ยทwaktu baca 2 menit

Virus corona varian delta begitu mudah menular. Ahli dari UI membeberkan bagaimana varian delta menyebar dan gejala ketika terpapar.
Seperti dalam siaran pers RSUI, Minggu (18/7), menurut dokter spesialis paru dari RSUI, dr. Gatut Priyonugroho, Sp.P., perbedaan COVID-19 Delta (dari India) dengan varian lain, antara lain pada tingkat penularannya.
"Virus Covid-19 varian alpha dari UK bisa menular dari satu orang kepada enam orang, dan varian delta dari satu orang menularkannya kepada delapan orang. Angka tersebut tidak saklek, tapi menggambarkan bahwa semudah itu varian Covid-19 yang baru menular," kata dr Gatut.
Hal ini disampaikan dr Gatut dalam webinar dengan tema "Mengenal Lebih Dekat Covid-19 Varian Delta" yang digelar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) berkolaborasi dengan Rumah Sakit UI (RSUI).
dr. Gatut juga menjelaskan, apabila seseorang yang sudah terinfeksi Covid-19 divaksinasi, maka antibodi naik, kecuali untuk varian delta.
"Ketika dia sudah kena varian delta, terus divaksin, maka keefektifannya tidak sebaik seseorang yang belum terkena jenis varian tersebut," kata Gatut menjelaskan.
Gatut juga menyarankan pembersihan pada ruangan lebih utama daripada disinfeksi. Penggunaan sabun menjadi yang utama.
"Kalau tangan kita kotor, jangan didisinfeksi saja tapi tidak dibersihkan. Bersihkan dulu menggunakan sabun, karena cara ini paling aman untuk merontokkan struktur virus yang hinggap pada tangan kita," ujar Gatut.
Virus Covid-19 varian delta memilki gejala hampir sama dengan varian lainnya, yaitu demam (94%), batuk (79%), sesak (55%), berdahak (23%), nyeri badan (15%), lelah (23%), sakit kepala (8%), rinorea (7%), batuk darah (5%), diare (5%), anosmia (3%), dan mual (4%).
Jika seseorang terkena COVID ringan, pada umumnya ia baik-baik saja (0.1% memberat). Gatut meluruskan kesalahpahaman di masyarakat bahwa penyintas COVID-19 (mereka yang sudah sembuh dari Covid-19) akan lebih kebal terhadap virus tersebut.
"Mereka yang pernah kena COVID-19 bukan berarti dia sudah menumbuhkan antibodi, tetapi itu juga tandanya dia terbukti rentan terkena COVID-19, karena virus itu cocok dengan tubuhnya sehingga mudah masuk. Maka kita juga cukup sering menemukan kasus orang yang terinfeksi virus COVID-19 untuk yang kedua kalinya," ujar dr. Gatut Priyonugroho.
Gatut juga mengungkapkan, berdasarkan informasi yang bersumber dari WHO, pasien dapat dikeluarkan dari isolasi setelah 10 hari positif SARS CoV2 (Asimptomatik), dan 10 hari sesudah on set gejala dan terbebas dari gejala (simptomatik).
Masyarakat yang sudah terbebas dari isoman maupun isolasi di rumah sakit, harus tetap mematuhi protokol kesehatan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
