Ini Lokasi Kecelakaan yang Tewaskan Pemuda di Jaktim, Keluarga Anggap Janggal

24 Mei 2024 10:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Lokasi kecelakaan janggal di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi kecelakaan janggal di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur. Foto: Jonathan Devin/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Seorang pemuda bernama Yosafat Christo Barend Kroma (22) tewas disebut akibat kecelakaan di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur, pada 22 Februari lalu. Keluarga korban merasa janggal atas peristiwa ini.
ADVERTISEMENT
kumparan mendatangi lokasi kecelakaan pada Jumat (24/5). Tampak masih ada bekas kecelakaan pada pohon yang ditabrak korban. Bagian pohon yang rusak ditandai polisi menggunakan cat semprot.
Lokasi kecelakaan berada di jalan samping Banjir Kanal Timur (BKT). Kondisinya sepi penduduk, tak ada warga ataupun pedagang yang berjualan di dekat lokasi.
Untuk kondisi jalan di sini relatif lurus, tidak ada hambatan seperti lampu lalu lintas. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan tinggi, antara 50 sampai 60 kilometer per jam.
Lokasi kecelakaan janggal di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Keluarga Merasa Janggal

Keluarga korban melalui akun X @Jourahs, mengungkapkan ada kejanggalan yang terjadi dalam kasus kematian Yosafat.
Berdasarkan laporan awal yang diterima keluarga, saat kejadian ada 3 mobil angkutan kota (angkot) ugal-ugalan. Salah satu angkot itu menyerempet motor Honda CRF yang dikemudikan korban hingga hilang kendali dan menabrak pohon.
ADVERTISEMENT
Yosafat lalu terpental jatuh ke aspal. Dari belakang datang sebuah motor Honda Vario yang melindas korban. Ini yang disebut menjadi penyebab kematiannya.
Belakangan, keluarga juga baru mengetahui korban tak sendiri saat kejadian. Korban berjalan beriringan bersama temannya inisial I yang mengemudikan mobil Honda HRV.
"Mulailah si I ditanya-tanya sama tanteku (ibunda Yosafat). Dia menjelaskan seperti kronologi di atas. Dan menurut pengakuan dia, Yos meninggal di pangkuan si I," cuit @Jourahs dalam akun X-nya, dikutip Kamis (23/5).
Motor korban dan mobil HRV milik I disita polisi sesaat setelah kejadian sebagai barang bukti.
Kecurigaan mulai muncul ketika keluarga I datang ke rumah duka menggunakan mobil HRV tersebut. Padahal, motor Yosafat masih disita polisi. Saat itu, I juga tak ikut datang ke rumah duka dengan alasan mengalami shock berat.
ADVERTISEMENT
"Si I, yang seharusnya menjadi saksi kunci untuk kematian sepupuku, datang di ibadah penutupan peti dan pada proses penguburan, dia dan kakaknya bisa bercanda-canda, ketawa-ketawa enggak ada dosa. Padahal sebelumnya bilang dia shock berat," ujar @Jourahs.
Kecurigaan itu semakin diperkuat setelah teman korban lainnya mengungkapkan dugaan bahwa Yosafat tidak tewas akibat kecelakaan tunggal.
"Bukan angkot yang ugal-ugalan yang nyerempet adik aku. Tapi kemungkinan temennya sendiri. Saksi mata di lokasi kejadian bilang gak ada angkot. Yang ada mobil HRV, Xpander, sama mobil kecil lain," beber dia.
Belakangan diketahui juga, mobil HRV milik I juga ada bekas tabrakan di bagian depannya.
"Mau tahu yang bikin sakit hatinya lagi apa? Sepupu gue ga meninggal di pangkuan si I. Adek gue kegeletak di jalan. Yang nolong malah warga sekitar situ pake ambulans masjid. Si I ke mana? Ga tau.. Intinya dia bohong di kronologi awal," ungkapnya.
ADVERTISEMENT

Polisi Periksa 5 Saksi

Kanit Gakkum Satlantas Polres Metro Jakarta Timur AKP Darwis menjelaskan, sejauh ini sejumlah saksi sudah diperiksa terkait insiden kecelakaan itu.
"Melakukan pemeriksaan terhadap saksi sebanyak 5 orang. Di antaranya saudara ECBT (pengemudi HRV), DBP (penumpang HRV), FS (pengemudi ambulans), dan MATS (kurir online)," kata Darwis dalam keterangannya, Kamis (21/5).
Selain itu, Darwis mengungkapkan, pihaknya telah memeriksa 2 titik CCTV yang merekam peristiwa. Setelah ini, polisi berencana melakukan pemeriksaan tambahan terhadap 5 saksi yang telah diperiksa sebelumnya, sebelum kemudian melakukan gelar perkara.
"Lalu melaksanakan pendalaman olah TKP dengan TAA. Melaksanakan rekonstruksi kejadian di TKP, serta pencarian bukti/petunjuk tambahan lain," jelas Darwis.