Insiden MTsN 19, DPRD DKI Minta Disdik Mitigasi Gedung Sekolah yang Rentan Roboh
ยทwaktu baca 2 menit

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta August Hamonangan mengharapkan peran aktif Dinas Pendidikan (Disdik) DKI untuk mengawasi gedung dan bangunan sekolah selama musim hujan.
Pengawasan tersebut dilakukan agar tak terjadi kembali insiden seperti robohnya tembok Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 Pondok Labu, Jakarta Selatan, akibat diterjang banjir.
"Kejadian tersebut, ditambah lagi saat ini curah hujan yang tinggi harus jadi peringatan bagi Dinas Pendidikan DKI untuk memastikan bangunan sekolah di Jakarta aman," kata politikus PSI ini dikutip dari keterangan resminya, Minggu (8/10).
August meminta Disdik DKI bukan hanya memastikan kokohnya bangunan sekolah, namun juga segera melakukan mitigasi jika ada bangunan sekolah yang rentan roboh.
Terlebih, kata August, dana rehabilitasi sekolah pernah terkena efisiensi anggaran pada Tahun Anggaran 2020. Salah satu komponen anggaran yang paling banyak dipangkas, yakni rehab total gedung sekolah.
"Ini tentu harus menjadi perhatian Pemprov DKI," kata anggota Komisi Bidang Pembangunan DPRD DKI Jakarta tersebut.
Tiga siswa meninggal dunia akibat tembok ambruk saat banjir melanda MTsN 19, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (6/10).
Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengemukakan penyebab tembok pembatas gedung MTsN 19 Jakarta Selatan ambruk diduga karena kehilangan kemampuan menahan derasnya banjir dari luar sekolah.
Hal itu berdasarkan hasil kaji cepat sementara BPBD DKI terkait penyebab tembok pembatas sekolah ambruk hingga menimpa siswa yang sedang bermain di area taman sekolah tersebut.
"Karena tembok tidak mampu menahan luapan air yang terus naik oleh hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak pukul 14.00 WIB," ujar Isnawa saat menjenguk korban yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka di RS Prikasih, Jakarta Selatan, Kamis.
Isnawa mengungkapkan, faktor lain yang diduga menjadi penyebab terjadinya banjir di lokasi kejadian adalah karena buruknya sistem drainase sehingga menyebabkan air gorong-gorong meluap.
Di samping itu, posisi sekolah juga berada di dataran rendah yang di sekitarnya terdapat saluran penghubung (PHB) Pinang Kalijati dan di belakang sekolah terdapat aliran sungai.
Tiga korban meninggal dunia karena insiden tembok ambruk di MTsN 19 adalah Dicka Safa Ghifari, Muhammad Adnan Efendi, dan Dendis Al Latif.
