Iran-AS Dilaporkan Bahas Gencatan Senjata 45 Hari Bareng Mediator Regional

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi Foto: VALENTIN FLAURAUD/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi Foto: VALENTIN FLAURAUD/AFP

Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut tengah membahas gencatan senjata 45 hari sebagai langkah awal mengakhiri perang, menurut laporan Axios pada Senin (6/4).

Pembicaraan itu disebut melibatkan AS, Iran, serta mediator regional dari Pakistan, Mesir, dan Turki.

Negosiasi juga dilakukan melalui komunikasi tidak langsung antara utusan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Dua Tahap Kesepakatan

Mengutip Axios, rencana kesepakatan terdiri dari dua tahap, dimulai dengan gencatan senjata sementara selama 45 hari untuk membuka jalan menuju akhir permanen konflik.

Jika masih kurang, gencatan senjata bisa diperpanjang untuk menambah waktu pembahasan ulang, demikian menurut salah satu sumber.

Sementara tahap kedua mencakup kesepakatan penuh untuk mengakhiri perang secara permanen.

Namun, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat disebut sangat kecil di tengah ancaman eskalasi.

"Peluang untuk mencapai kesepakatan parsial dalam 48 jam ke depan sangat tipis," kata sumber yang mengetahui proses negosiasi, dilansir AlJazeera.

Iran juga mengingatkan mediator agar tidak terjebak dalam skenario seperti di Gaza atau Lebanon, di mana gencatan senjata dinilai tidak benar-benar menghentikan serangan.

Belum Ada Komentar Resmi

Sementara itu, Reuters menyebut laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen, dan pihak Gedung Putih maupun Kementerian Luar Negeri AS belum memberikan komentar resmi.

Pihak Iran juga belum memberikan respons apa pun selain menolak ultimatum Presiden AS Donald Trump yang memberi tenggat waktu 48 jam bagi Teheran membuka Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato yang disiarkan televisi terkait konflik Timur Tengah dari Cross Hall, White House (1/4/2026). Foto: Alex Brandon / POOL / AFP

Di sisi lain, Trump tetap melayangkan ultimatum kepada Iran namun memberi tambahan 20 jam untuk tenggat waktunya.

Pada Minggu (5/4), Trump menulis di Truth Social dengan kalimat umpatan dan makian. Ia mengancam Iran akan menghadapi serangan terhadap infrastruktur penting jika Hormuz tidak dibuka pada Selasa (7/4) malam.

Situasi ini menempatkan jalur diplomasi dan ancaman militer dalam satu garis waktu yang sama, dengan risiko eskalasi yang masih sangat terbuka.