Iran Gelar Pilpres, Ulama Konservatif Syiah Diprediksi Menang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pemilu di Iran. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pemilu di Iran. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei membuka pilpres pada Jumat (18/6/2021). Ulama konservatif Ebrahim Raisi diprediksi bakal menang.

Khamenei menjadi warga Iran pertama yang memberikan suaranya. Dia memberikan suara di TPS di ibu kota Iran, Teheran.

Usai memberikan suara Khamenei meminta warga Iran segera memberikan suara. Ada 60 juta lebih orang yang punya hak suara pada Pemilu Iran 2021 ini.

Suasana pemilu di Iran. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

"Makin cepat melakukan tugas ini, maka akan lebih baik," kata Khamenei seperti dikutip dari AFP.

"Yang harus warga Iran lakukan hari ini sampai tengah malam nanti adalah pergi ke TPS dan memilih. Ini akan berguna untuk membangun masa depan kalian," sambung dia.

Meski sudah ada titah dari Khamenei, warga Iran masih banyak yang enggan memilih. Sebab, mereka menilai Pilpres kali ini cacat.

Suasana pemilu di Iran. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Beberapa kandidat didiskualifikasi tanpa alasan jelas. Keadaan diperparah dengan memburuknya ekonomi Iran beberapa tahun terakhir jadi penyebab kenapa pemilu 2021 di Iran dianggap cacat.

Memburuk ekonomi di Iran telah membuat kepercayaan terhadap pemerintah makin melemah.

Suasana pemilu di Iran. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

"Saya bukan politikus, dan tak tahu apa-apa soal politik. Saya juga tak punya uang," ujar seorang warga Teheran Nasarollah soal alasannya tak mau memilih.

"Bagaimana bisa kita memilih orang-orang yang tak mau berbuat apa-apa untuk rakyat? ini tak benar," sambung dia.

Ulama jadi favorit

Calon Presiden Iran, Ebrahim Raisi. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Pilpres Iran 2021 ini ditujukan untuk mencari pengganti sosok moderat, Hassan Rouhani, yang sudah memimpin Iran sejak 2013. Rouhani kini tak bisa lagi mencalonkan diri sebagai Presiden.

Dia sudah melewati ambang masa jabatan Presiden sesuai konstitusi yaitu dua periode. Satu periode masa jabatan Presiden Iran adalah empat tahun.

Jelang pemilu, ulama Raisi sudah digadang-gadang bakal menggantikan tempat Rouhani. Raisi kini menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Iran.

Presiden Iran, Hassan Rouhani. Foto: Reuters/Lucas Jackson

Raisi dikenal sebagai salah seorang tokoh terkemuka dari kelompok ultra-konservatif Syiah.

Selama kampanye Presiden, kelompok pendukung Raisi selalu membawa narasi ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat. Mereka melabeli AS sebagai setan besar hingga arogansi global.

Kelompok ini juga mengangkat isu kegagalan Iran saat dipimpin kelompok moderat.

Calon Presiden Iran, Ebrahim Raisi. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Berbagai kelompok oposisi dan warga Iran yang hidup dalam pengasingan menentang keras pencalonan Raisi. Pria itu dituduh otak pembantaian massal kelompok kiri Iran pada 1988.

Kala itu Raisi menjabat Deputi Jaksa Pengadilan Teheran yang bertanggung jawab atas pembantaian warga kiri. Raisi selalu membantah tuduhan tersebut.