Iran Lanjutkan Pengayaan Uranium, Pelanggaran Kesepakatan Nuklir

Iran dilaporkan melanjutkan pengayaan uranium di fasilitas nuklir Fordow pada Kamis (7/11). Langkah Iran ini merupakan pelanggaran kesepakatan nuklir yang diteken dengan negara-negara Barat pada 2015 silam.
Menurut Organisasi Energi Aton Iran (AEOI), mereka telah menyuntikkan gas uranium ke centrifuge di Fordow. AEOI mengatakan, proses ini akan dipantau oleh pengawas dari badan nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
"Prosesnya akan memakan beberapa jam untuk stabil dan pada Sabtu, ketika pengawas Badan Energi Atom Internasional datang lagi ke tempat ini, tingkat pengayaan uranium 4,5 persen akan dicapai," kata juru bicara AEOI, Behrouz Kamalvandi, seperti dikutip Reuters.
Berdasarkan perjanjian pada 2015 dengan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, China dan Jerman, Iran dilarang mengayakan uranium dan material nuklir lainnya di Fordow. Fasilitas yang berada di dalam gunung itu hanya diperbolehkan menjadi pusat riset teknologi nuklir dan fisika.
Sebanyak 1.044 centrifuge di dalam Fordow dilarang digunakan untuk mengayakan nuklir. Perjanjian bertajuk Joint Comprehensive Plan of Action atau JCPOA itu disepakati agar Iran tidak mampu membuat senjata nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Namun atas perintah Presiden Donald Trump pada 2018, AS keluar dari perjanjian tersebut dan kembali menjatuhkan sanksi, Iran kemudian sedikit demi sedikit melakukan pelanggaran. Langkah Iran kali ini juga dianggap akan menyulitkan Eropa membuat AS kembali pada kesepakatan JCPOA.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut Iran telah melakukan langkah yang buruk. Macron menyatakan akan melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Iran dalam waktu dekat.
"Untuk pertama kalinya Iran memutuskan secara eksplisit dan terang-terangan melakukan tindakan untuk keluar dari kesepakatan JCPOA," kata Macron.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan Iran tidak punya alasan kredibel untuk melanjutkan program pengayaan uranium mereka. AS, kata dia, tetap akan melakukan tekanan ekonomi terhadap Iran sampai negara itu melucuti nuklirnya.
