Iran Mulai Pilpres Putaran Kedua: Tokoh Moderat Lawan Sosok Garis Keras

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang wanita Iran bersiap untuk memberikan suaranya di tempat pemungutan suara di Teheran pada 5 Juli 2024. Foto: ATTA KENARE / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita Iran bersiap untuk memberikan suaranya di tempat pemungutan suara di Teheran pada 5 Juli 2024. Foto: ATTA KENARE / AFP

Iran menggelar pilpres putaran kedua pada Jumat (5/7). Warga setempat akan memilih pengganti Presiden Ebrahim Raisi yang tewas akibat kecelakaan helikopter Mei lalu.

Laporan televisi nasional Iran melaporkan, TPS di Iran dibuka pada pukul 08.00 waktu setempat. Sedangkan penutupan TPS pada pukul 18.00. Pengumuman menang disampaikan Sabtu (6/7).

Putaran pertama pemilu Iran dilakukan pada 28 Juni 2024. Sebanyak 60 persen warga Iran tidak menggunakan hak pilih pada pemilu putaran pertama.

Massoud Pezeshkian, kandidat reformis dalam pemilihan presiden Iran Foto: Atta Kenare/AFP

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yakin warganya masih antusias untuk menggunakan hak pilih untuk putaran kedua ini.

"Saya mendengar bahwa semangat dan minat lebih tinggi dari putaran pertama. Semoga Tuhan mewujudkan ini karena ini adalah berita menggembirakan," ucap Khamenei seperti dikutip dari AFP.

Pada putaran kedua ada dua capres yang bertarung, yaitu tokoh moderat Masoud Pezeshkian melawan sosok garis keras Saeed Jalili.

Menurut sejumlah analisis, presiden baru Iran tidak akan melakukan perubahan terhadap kebijakan nuklir atau dukungan terhadap milisi di seantero Timur Tengah.

Kandidat presiden Iran Saeed Jalili Foto: MAJID ASGARIPOUR/REUTERS

Akan tetapi, pemenang pilpres ini akan punya wewenang besar dalam menjalankan pemerintahan sehari-sehari. Selain itu presiden punya pengaruh terhadap kebijakan dalam dan luar negeri.

Saat masa kampanye, kedua kandidat berjanji akan memperbaiki perekonomian Iran. Perekonomian merosot karena salah pengelolaan, korupsi sampai sanksi AS.