Irhamna Tunanetra Penjual Kerupuk, Mengenali Rupiah dengan 'Perasaan'

Keterbatasan penglihatan tak menghalangi semangat Irhamna (48) untuk terus berjuang mencari nafkah dari keringatnya sendiri. Tunanetra justru membuatnya lebih peka dalam berbagai hal, termasuk saat mendeteksi uang.
Penjual kerupuk keliling itu bisa mengenali uang yang diserahkan oleh para pembeli. Hanya dengan merabanya, Irhamna bisa mengenali nilai uang rupiah. Bagaimana caranya?
"Diraba dengan perasaan. Masing-masing nominal panjangnya berbeda. Misal, nominal dua ribu lebih pendek dari nominal lima ribu. Kalau uang nominalnya lebih besar maka ukurannya lebih panjang," urai Irhamna, saat ditemui di Jalan Tebet Timur Dalam III, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (14/1).

Tak ada pelatihan khusus yang diterima Irhamna soal bagaimana membedakan uang rupiah. Pengalaman lah yang mengajarkannya sendiri.
"Kalau uang logam lebih mudah lagi," lanjutnya. Irhamna kemudian mengeluarkan uang logam dan menebaknya sendiri. Semua tebakannya benar.
Kumparan masih kurang puas, kemudian saya membeli kerupuk dagangannya dengan lembaran sepuluh ribu dan lima ribuan. Harga kerupuk jualan Irhaman Rp 13.000. Uang tersebut saya lipat dan saya minta Irhamna menebak.
"Bentar, saya luruskan lipatannya. Ini sepuluh ribu dan ini lima ribu," jawabnya. Ia kembali menebaknya dengan benar.

Pria asal Blora, Jawa Tengah ini, tak membiarkan keterbatasan penglihatannya juga membatasi semangat hidup. Sejak 25 tahun yang lalu, Irhamna merantau ke Jakarta, mencoba peruntungan nasib. Sejak saat itu pulalah ia bertekad untuk terus bekerja keras.
"Tunanetra sebenarnya ibarat mobil yang hanya mati lampu saja, tapi komponen utamanya tetap hidup. Mati lampu bisa diganti dengan lilin, senter dan alat penerangan lainnya," jelasnya.
"Rezeki itu sudah ada yang mengatur, kita jalankan saja. Pernah juga, baru jualan sebentar terus ada yang memborong semuanya. Disitu saya merasa kisinan (malu)," imbuh pria bertubuh kurus ini.
Kini Irhamna memiliki tanggungan 2 anak dan 1 istri. Semangat hidup Irhamna semakin membara demi mencukupi kehidupan orang-orang yang dicintainya. Meski tunanetra, dia menolak mengemis.
